Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Jalansatusatu

logika adalah modal dalam pembentukan mental bermasyarakat, logika bersih adalah pijakan

Jokowi Capres Wacana, Lingkaran Survey Indonesia (LSI) di Lingkaran Kepentingan ARB

OPINI | 21 October 2013 | 22:58 Dibaca: 1171   Komentar: 16   3

13823692811386963691

Kekuatan apa yang akan mendominasi Pemilu Presiden 2014 nanti?? (sumber: JalanSatuSatu super file)

Lembaga Survey Lingkaran Survey Indonesia (LSI) merilis hasil survey yang dilakukan selama bulan Oktober 2013 terhadap 1200 responden, dalam survey ini LSI merilis perolehan suara partai berdasarkan elektabilitas Calon Presiden (capres)  yang akan diusung oleh partai dalam pemilihan presiden 2014 mendatang. Golkar dengan mengusung ARB menempati posisi pertama dengan perolehan presentasi suara 20,4 %, PDI Perjuangan diurutan kedua dengan suara 18,7 % dengan Megawati Soekarnoputri sebagai kandidat, dan Demokrat diurutan ketiga 9,8% , diurutan selanjutnya ada PAN, PKB, PKS dst (sumber: tempo.co).

Tidak masuknya nama Jokowi dalam survey, LSI beralasan karena ada tiga indeks capres yang diformulasikan dan nama Jokowi tidak memenuhi syarat indeks, ketiga indeks itu adalah 1) capres dicalonkan oleh tiga parpol teratas, 2) capres merupakan pengurus struktural partai dan yang ke 3) capres dicalonkan secara resmi oleh partai peserta pemilu, belum diumumkannya  nama Jokowi oleh partai PDI Perjuangan dijadikan acuan oleh LSI untuk menyebut Jokowi sebagai Capres Wacana.

Jokowi memang tidak pernah masuk dalam survey yang diambil oleh lembaga survey LSI, melejitnya nama Jokowi disetiap survey capres tidak mau dijadikan alasan oleh LSI untuk memasukkan nama Jokowi sebagai capres alternativ, LSI selalu memakai landasan tradisi politik sebagai alasan, LSI selalu merujuk kepada Ketua Partai yang pasti akan diusung oleh partai dalam mengajukan nama untuk maju sebagai capres di 2014, Deny JA menyampaikan bahwa dia melihat dari pengalaman pemilu yang sebelumnya capres selalu pimpinan struktural partai.

Dihilangkannya nama Jokowi pada survey LSI, memberi sinyalemen bahwa LSI ingin bermain opini terhadap situasi yang berkembang, lembaga survey yang termasuk sebagai konsultan pemenangan ARB pada pilpres mendatang ingin mencoba memisahkan Jokowi dari pertarungan survey ARB, jika semakin sedikit komponen pilihan survey secara otomatis akan mengangkat nama yang sebelumnya mendapat perolehan survey kecil.

Memainkan sebutan Jokowi sebagai capres wacana adalah permaian LSI dalam memainkan opini, Jokowi oleh LSI ingin dikotakkan sebagai calon yang tidak harus dipilih pada tingkat elektabilitas dan kepopuleran, dengan memberikan gelar capres wacana, LSI ingin mencoba strategi pengahapusan nama Jokowi dalam stigma yang berkembang dimasyarakat bahwa Jokowi patut dipertimbangakn pada calon presiden yang akan ikut bertarung pada pilpres 2014 nanti.

Seperti yang sudah kita sangat ketahui tingkat elektabilitas ARB sebagai capres yang diusung Golkar selalu hanya memperoleh tingkat pemilihan paling besar 5%, sangat jauh dibawah kandidat-kandidat lain, apalagi jika dibandingkan oleh Jokowi yang selalu unggul disetiap survey yang dilakukan, Survey terakhir yang dikeluarkan oleh Center for Strategic and Internasional Studies (CSIS) menempatkan Jokowi diurutan pertama dengan tingkat presentasi 32,5 % (sumber: merdeka.com).

Indikasi LSI mengutak-atik formula survey untuk memenangkan Golkar dan ARB sangat terasa, disetiap survey yang dilakukan oleh LSI selalu menempatkan Golkar diurutan pertama, apalagi dengan status LSI sebagai konsultan politik Golkar jelas ada keinginan LSI sedikit memberikan service kepada pemberi fulus terhadap kantong LSI yaitu ARB, meski indikasi ini dibantah oleh Deny JA sebagai pemimpin LSI.

Dikeluarkannya dalil-dalil siluman penuh dengan tendesi untuk bisa mengarounded calon-calon potensial, dan meminimalis lawan survey untuk ARB sangat manipulatif yang dilakukan LSI, memaksakan hasil survey karena tendisi untuk memberikan hidangan nikmat bagi pemberi materi sangat disayangkan, lembaga survey yang harusnya menjadi element penyeimbang positif dalam era Demokrasi yang sedang tubuh di negeri ini harus dirusak oleh lembaga survey yang bermain untuk memenangkan calon tertentu.

Independensi lembaga survey yang saat ini dijadikan sorotan harus dijadikan pekerjaan rumah tangga bersama lembaga survey untuk membenahi tingkat kepercayaan publik terhadap hasil survey, merosot tajamnya pandangan masyarakat terhadap hasil survey sangat beralasan, ketidak percayaan masyarakat meningkat karena sering ada lembaga survey yang mengeluarkan hasil survey yang dalam nalar pola pikir standar sudah terlihat janggal dan aneh, ketika muncul tiba-tiba sebuah nama menjadi kandidat yang memiliki persentase tinggi padahal sebelumnya kandidat ini tidak pernah unggul dilembaga survey manapun.

Pengiringan opini publik selalu dijadikan tujuan lembaga-lembaga survey bayaran untuk mengeluarkan hasil survey kontroversial sehingga bisa dapat mengacaukan opini yang sudah ada, untuk diarahkan ke opini baru yang ingin dikembangkan oleh lembaga survey bayaran tersebut,sangat kontradiktif dengan fungsi awal lembaga survey yang harusnya menjunjung tinggi tingkat independennya demi mendapatkan kepercayaan mutlak publik, LSI yang menjadi alat politik ARB memang sangat memungkinkan melakukan manuver itu, jika kekuatan finansial mampu membayar segala kepentingan memang sudah tidak kita dapatkan lagi hasil independen dari sebuah hasil survey.

Kekalahan mutlak Fauzi Bowo (Foke) pada pilgub DKI kemarin oleh Jokowi sebenarnya sudah bisa dijadikan kacamata untuk melihat bagaimana LSI melakukan kesalahan terhadap hasil survey yang dilakukan olehnya, pada saat itu LSI mengeluarkan hasil survey Foke mendapat 49% suara sedangkan Jokowi hanya mendapatkan 14% (sumber: detik.com), saat itu LSI juga menjadi konsultan politik bagi pemenangan Foke di pilgub DKI 2012 kemarin, LSI begitu memaksakan penggirang opini publik untuk memusatkan suara atau elektabilitas kepada Foke, tapi pada akhirnya kemenangan di tangan Jokowi.

Mungkin sudah saatnya kita berpihak pada pemikiran dan kesadaran kita sendiri terhadap calon presiden yang akan kita pilih pada pemilu 2014 mendatang, sudah saatnya kita bijak dalam melihat hasil survey yang dekeluarkan lembaga survey, penjerumusan opini yang dilakukan oleh lembaga survey mari kita jadikan koreksi terhadap perkembangan demokrasi yang ada di negeri ini.

-JalanSatuSatu

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalau Bisa Beli, Kenapa Ambil yang Gratis?! …

Tjiptadinata Effend... | | 01 November 2014 | 14:03

Sebagai Tersangka Kasus Pornografi, Akankah …

Gatot Swandito | | 01 November 2014 | 12:06

Danau Toba, Masihkah Destinasi Wisata? …

Mory Yana Gultom | | 01 November 2014 | 10:13

Traveling Sekaligus Mendidik Anak …

Majawati Oen | | 01 November 2014 | 08:40

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

MA si Tukang Sate Ciptakan Rekor Muri …

Ervipi | 5 jam lalu

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 6 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 7 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Wonderful Indonesia: Menelusuri Jejak …

Casmudi | 8 jam lalu

Memanfaatkan Halaman Rumah untuk Tanaman …

Akhmad Sujadi | 8 jam lalu

Jangan-jangan Jokowi (juga) Kurang Makan …

Eddy Mesakh | 8 jam lalu

Susi yang Bikin Heran …

Mbah Mupeang | 8 jam lalu

Semoga Tidak Hangat Tahi Ayam! …

Syaiful Rahman | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: