Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Lagi, Amien Rais ‘cecar’ Jokowi

OPINI | 24 September 2013 | 18:54 Dibaca: 3617   Komentar: 97   15

13800234981131860965

Amien Rais kembali minta Jokowi fokus benahi permasalahan Jakarta selama lima tahun masa jabatannya. (Foto: pelitaonline.com)

Amien Rais meminta masyarakat Indonesia memilih presiden bukan berdasarkan popularitas. Jokowi memang sosok yang baik dan sering blusukan menemui masyarakat, namun dengan segala hormat saya, untuk memilih ‘Lurah’ Indonesia, tidak boleh hanya berdasar popularitas.

Filipina contohnya. Waktu itu, rakyat gegap gempita memilih Joseph Estrada sebagai presiden lantaran popularitasnya dalam memainkan peran di film. “Tapi sewaktu menjabat, Estrada tidak mampu menjalankannya. Setelah sembilan bulan menjabat presiden, Estrada dilengserkan karena sering menenggak minuman keras, main perempuan dan perilaku tidak terpuji lainnya,” ujar Ketua Majelis Pertimbangan Partai (MPP) PAN ini.

Kalau menelisik secara tersurat, pernyataan Amien Rais ini menandakan ketidak-mantapan dirinya untuk mendukung Jokowi sebagai capres periode 2014-2019. Maklum, Jokowi dianggap masih ‘anak kemarin sore’ yang jam terbang leadership-nya baru sebatas pernah menjabat Walikota Solo, Jawa Tengah, dan Gubernur DKI Jakarta saat ini.

Prestasi Jokowi? Dalam kacamata Amien Rais, belum ada apa-apanya. Amien menuturkan, julukan Jokowi sebagai salah satu walikota terbaik di dunia adalah kurang tepat. “Karena saat Jokowi masih menjabat Walikota Solo, ternyata kota tersebut masih menjadi salah satu dari lima daerah tingkat dua termiskin di Jawa Tengah,” ungkapnya seperti dikutip detiknews.com (24/9).

Meski tidak melarang Jokowi untuk maju sebagai capres pada 2014, tapi Amien Rais lebih berharap supaya Jokowi fokus membenahi masalah ibukota Jakarta selama lima tahun ke depan, mulai dari kemacetan, banjir dan sebagainya. “Pak Jokowi orangnya baik, suka ketawa-ketawa, blusukan, merakyat, makan gado-gado dengan tukang becak, menggendong bayi. Kita trenyuh. Tapi untuk memahami jam terbang, sebaiknya diasah di gubernur dulu. Kan dia disumpah untuk lima tahun,” cetusnya.

Bukan Amien Rais kalau tidak melontarkan pernyataan politik yang buntutnya ‘memerahkan kuping’ pihak-pihak tertentu yang dicecarnya. Kalau lagi-lagi Jokowi yang menjadi target pernyataan Amien Rais, maka beruntung, Gubernur DKI ini masih bisa sabar menanggapi apapun kritik yang menerpa diri dan kinerjanya.

Tapi, secara politik—dan kandungan yang tersirat—, sebenarnya pernyataan Amien Rais bisa saja menyasar kepada: Pertama, Partai PDI Perjuangan yang masih malu-malu dan ragu untuk menetapkan Jokowi sebagai capres pada 2014. Bisa jadi, ini trik politik Amien Rais agar PDI Perjuangan segera meresmikan Jokowi sebagai capres. Apalagi diakui, popularitas Jokowi menjulang tinggi melampaui elektabilitas capres-capres lain. Jokowi sendiri nampak kikuk dan ewuh-pakewuh, lantaran tidak mau mendahului amanat partai, padahal suara-suara dukungan agar dirinya ‘nyapres’ makin menggelembung.

Kedua, lontaran pernyataan Amien Rais bisa jadi menyasar ke sejumlah partai politik yang belum menetapkan capresnya. Kenapa? Amien ingin mengingatkan agar partai-partai politik itu tahu diri bahwa popularitas Jokowi semakin tak terbendung. Kalau ingin mendukung Jokowi, tentu saja logikanya segera berkoalisi dengan PDI Perjuangan dan membujuk partai berlambang ‘banteng moncong putih’ ini untuk segera menegaskan pencapresan Jokowi. Tetapi, kalau pun tidak ingin mendukung Jokowi sebagai capres pada 2014, Amien Rais memberi kata kunci, agar ‘memaksakan’ Jokowi menamatkan tugasnya selama lima tahun sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Ketiga, pernyataan Amien Rais juga bisa ‘dibaca’ bahwa sebenarnya dibalik kalimatnya yang keras menohok Jokowi, justru itu merupakan bentuk dukungan Amien Rais kepada Jokowi agar berani menerima tantangan maju sebagai capres. Pasti ada partai politik lain—di luar PDI Perjuangan—yang bakal ‘melirik’ Jokowi sebagai capres (atau cawapres). Apalagi, lagi-lagi pendulangan popularitas dan elektabilitas Jokowi dari hari ke hari memang kian kinclong.

Bagi Jokowi, pernyataan Amien Rais hendaknya tidak ditelan ‘mentah-mentah’, apalagi dianggap ‘mengkerdilkan’ Jokowi. Justru ini lecutan semangat bagi Jokowi, untuk segera men-declare bahwa dirinya bersedia menjadi capres sepanjang merupakan amanah partai politik pengusungnya, dan terlebih lagi amanah dari masyarakat Indonesia yang mencintainya.

Pernyataan politik Amien Rais memang kerapkali seperti itu. Terkadang, seperti hendak menangkap ikan tanpa membuat keruh airnya. Tapi kadangkala juga, Amien Rais bicara tanpa tedeng aling-aling dan berterus-terang apa adanya. Kalau sudah begitu, kadang kita sampai heran karena sebenarnya bukan begitu tipikal ‘Orang Jogja’.

Gimana?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Menjelajah Pulau Karang Terbesar di …

Dizzman | | 31 October 2014 | 22:32

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | | 31 October 2014 | 08:42

Hati Bersih dan Niat Lurus Awal Kesuksesan …

Agung Soni | | 01 November 2014 | 00:03

Rayakan Ultah Ke-24 JNE bersama Kompasiana …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 12:53


TRENDING ARTICLES

Susi Mania! …

Indria Salim | 6 jam lalu

Gadis-Gadis berlagak ‘Murahan’ di Panah …

Sahroha Lumbanraja | 8 jam lalu

Pramugari Cantik Pesawat Presiden Theresia …

Febrialdi | 10 jam lalu

Kerusakan Demokrasi di DPR, MK Harus Ikut …

Daniel H.t. | 12 jam lalu

Dari Pepih Nugraha Untuk Seneng Utami …

Seneng | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Sengkuni dan Nilai Keikhlasan Berpolitik …

Efendi Rustam | 9 jam lalu

Wakatobi, Potongan Surga yang Jatuh ke Bumi …

Arif Rahman | 10 jam lalu

Danau Poso, Keelokannya Melahirkan Rindu …

Jafar G Bua | 10 jam lalu

Politik Saling Sandera …

Salman Darwis | 12 jam lalu

Bank Papua, Sponsor Tunggal ISL Musim Depan …

Djarwopapua | 12 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: