Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Widodo Judarwanto

Dr Widodo Judarwanto, pediatrician. www.growupclinic.com www.allergycliniconline.com www.pickyeatersclinic.com www.dokteranakonline.com "We are guilty of many errors and selengkapnya

Masih Saja PDIP Berat Hati Terhadap Jokowi

HL | 08 September 2013 | 18:00 Dibaca: 1987   Komentar: 31   7

137864833766415354

Jokowi/Admin (Kompas.com)

Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PDI Perjuangan (PDIP) di Ancol, Jakarta Utara, merupakan momentum tepat untuk menetapkan calon presiden (capres) dari partai oposisi itu. Beberapa DPD PDIP dan suara santer para simpatisan juga sudah menyatakan akan mendukung Gubernur DKI Jakarta Jokowi, untuk menjadi calon presiden (capres).Tetapi tampaknya PDIP masih berat hati terhadap Jokowi seperti ketika dalam Pilkada DKI dua tahun yang lalu.

Menurut beberapa pengamat saat ini pengumuman Jokowi sebagai capres pada Rakernas tidak mungkin terjadi. Hal ini disebabkan karena PDIP masih menimbang Megawati atau Puan Maharani untuk maju kembali sebagai capres. Saat ini masih saja PDIP yang melabelkan diri sebagai partai demokrat itu tetap tidak bersifat demokrat. PDIP masih terkukung oleh kekuatan besar pamor dinasti Soekarno dalam pola kepartaiannya. Semua keputusan penting partai demokrasi ini tidak didapatkan dari suara rakyat tetapi masih didominasi titah dari pemimpinya yang tidak dapat diganggu gugat. Tampaknya titah dari pucuk pimpinan masih terus berupaya untuk memilih ego dinasti dengan tetap mengedepankan Megawati bahkan putri mahkota Puan Maharani untuk meraih RI-1.

Meskipun sudah jelas rakyat melalui survey selalu mengatakan bahwa Jokowi pilihan paling diminati dibandingkan Megawati. Hal ini dibuktikan bahwa popularitas Jokowi melambung hiungga 20-35% sedangkan Megawati hanya berkutat di bawah dua digit alias 4-8%. Tetapi tampaknya pucuk pimpinan PDIP masih bersikeras untuk melanggengkan kepemimpinan dinasti dibandingkan mementingkan suara rakyatnya. Bahkan Megawati tampaknya masih berupaya memberikan warisan kepemimpinan kepada Puan Maharani dibandingkan Jokowi. Hal inilah merupakan sikap politik yang manusiawi karena dinasti keluarga sulit dikesampingkan dibanding dinamika politik dalam masyarakat.

Ego dinasti Soekarno tetap ingin dipertahankan bisa dilihat bahwa PDIP menunda pencapresan Jokowi hingga pemilu legislatif. Bila PDIP menang besar dalam pemilu maka Megawati atau Puan Maharani akan dicapreskan. Jokowi baru dicapreskan bila skenario darurat baru terjadi saat partai itu meraup suara di bawah 20%. Tampaknya ego dinasti itu menafikkan suara rakyat yang menghendaki manusia berkarisma modern Sang Jokowi.

Itulah nasib Satrio piningit, apapun hambatan yang menderanya akan pasti dilewati bila rakyat atau Sang Sutradara Alam menghendakinya. Dalam sejarah kaderisasi dalam PDIP sebenarnya berlaku alamiah, tidak bisa diskenario oleh kehebatan partai. Buktinya selama ini PDIP selalu berat hatiu terhadap Jokowi tetapi tetap saja Jokowi melanggeng. Berat hati ego dinasti itu sudah mulai tampak saat pemilu Pilgub DKI.
Karisma Alamiah Bukan Kaderisasi

Jokowi itu bisa jadi Cagub DKI, sebenarnya bukan karena kaderisasi atau nrencana jangka panjang partai apalagi dari kehendak pemimpin partai tetapi terjadi secara alamiah. Jusuf Kalla adalah tokoh pertama yang mati-matian memperjuangkan dan memperkenalkan Jokowi sebagai bakal cagub DKI. Secara politis beberapa pengamat mengatakan saat itu Jokowi dari awal paham benar bahwa dia sebenarya bukan diproyeksikan jadi Bakal Cagub DKI. Bahkan untuk jadi bakal Cagub Jatengpun partainya belum menunjukkan sinyal sedikitpun. Pada saat jelang penutupan pendaftaran Cagub DKI, Megawati sudah hampir pasti mendukung Mayjen Adang Ruchyatna dan Cagub lain Letjen Toto Sampono. Namun, mendekati tenggat waktu pendaftaran di KPU, JK seorang politikus jenius dan tampaknya mempunyai indera ke enam politik itu terus menghubungi Mega untuk memohon pertimbangkan Jokowi. Tetapi awalnya Mega awalnya tidak bergeming sedikitpun. Tampaknya saat itu Megawati atau semua elit PDIP tiada terpikir vatau mempunyai niatan sedikitpun untuk mengangkat Jokowi. Tampaknya dukungan Mega kepada Adang Ruchiatna itu sudah bulat. Tapi, JK dengan segala kepiwaian politiknya dan kehebatan pengaruhnya berhasil meluluhkan Megawati.

Beberapa pengamat mengatakan ketika ada sedikit kesempatan dan kegamangan Megawati itulah, dengan gesit JK langsung melobi Prabowo dan beberapa donatur lainnya untuk ikut meluluhkan Megawati dengan menjanjikan bantuan dana politik untuk meloloskan Jokowi sebagai pengganti Foke. Fakta politik mengenai keberadaan Jokowi di pilgub DKI terungkap. Yang paling aktif dalam pencalonan Gubernur itu bukan PDIP atau Megawati tetapi oleh mantan Wapres Jusuf Kalla (JK). Karena diminta JK, Wali Kota Solo ini datang ke Jakarta meski tanpa persiapan. “Memang betul Pak JK yang telepon saya. Saya nggak punya duit, kata Pak JK ‘itu gampang nanti saya bicara sama Bu Mega’,” ujar Jokowi. Hal itu disampaikan dalam talkshow yang digelar di kediaman anak JK di Jl Sekolah Duta V No 42A, Pondok Indah, Jaksel, Minggu.

Demikian juga saat ini, tampaknya masih saja PDIP masih belum mau belajar dari sejarah. PDIP dengan egodinastinya masih mengedepankan perhitungan politik secara klasik. PDIP dan elitnya masih tidak bisa mengakui dan membaca akan karisma dan anugerah aura pemimpinan masa depan yang dipunyai Jokowi. PDIP masih saja berat hati dan tidak legowo untuk memuluskan keinginan suara bawah yang mengelu-elukan Jokowi. Boleh saja Megawati selama ini selalu tidak percaya perhitungan ilmiah yang bisa dipercaya seperti survey atau hitung cepat pilkada atau pilpres. Tetapi Mewagati harus percaya bahwa Jokowi lebih dielu-elukan oleh rakyatnya saat turun blusukan di masyarakat dibanding bila dirinya blusukan dalam masyarakat. Padahal Jokowi kalah modal karisma aura Bung Karno dibandingkan Megawati. Megawati harus membuka mata tentang melesatnya super star Jokowi. Saat ini berita dan ulasan sosial politik apapun tentang Jokowi mendominasi dan menduduki artikel paling favorit di media online termasuk di kompasiana. Megawati harus lebih legowo tentang fakta sosial dalam masyarakat seperti survey yang telah dilakukan Kompas baru-baru ini. Bahwa fenomena Jokowi sekarang melekat erat dalam masyarakat bawah, menengah bahkan masyarakat kalangan atas. Bukan seperti Megawati yang hanya populer dikalangan bawah. Megawati harus membuka telinga lebih lebar. Saat ini para calon presiden mengeluh dan merintih ketika nama Jokowi selalu melesat ke puncak saat surveu popularitas calon presiden dilakukan.

Megawati harus percaya suara rakyat yang mengatakan Jokowi adalah sebenar-benarnya satrio piningit. Megawati harus percaya bahwa saat Rakernas berlangsung, bertebaran spanduk yang cukup kontroversial bertulisan: Jokowi Yes! Megawati No! Latar spanduk menggunakan warna merah putih. Di sisi kanannya, dipasang foto Jokowi. Sedangkan di sisi kiri terdapat logo bergambar tangan kanan mengepal dengan telunjuk mengacung. Pembuat spanduk ini mengatasnamakan Barisan Jokowi for Presiden. Spanduk ini dipasang di titik-titik cukup strategis di berbagai lokasi ibukota. Harus diyakini bahwa sangat mungkin halk itu adalah suara rrakyat yang sebenarnya. Sangatlah tidak mungkin Jokowi yang sangat polos secara politis menggunakan atau bahkan memikirkan cara-cara seperti itu.

Bila fakta sosial politik yang didominasi suara rakyat itu selalu dikalahkan oleh romantisme kemenangan dinasti Soekarno. Megawati saat popularitasnya tinggi sepuluh tahun yang lalu sangatlah berbeda. Saat itu selain karena aura Soekarno karena Megawati terangkat karena dikuya-kuya oleh penguasa. Saat ini partai besar lain sudah menggadang-gadang calonnya untuk meraih Pemilu legislatif. Tetapi justru PDIP tidak mencapreskan Jokowi sekarang, maka secara psikologis politik dan strategi politik sangatlah tidak menguntungkan. Secara psikologis politik tampaknya keduakalinya Megawati berat hati terhadap Jokowi yang nyata-nyata dikekehendaki rakyat. Secara strategi politik maka kerugian lainnya adalah membiarkan modal kehebatan aura popularitas Jokowi dalam meraup kemenangan dalam Pemilu legislatif. Tampaknya saat ini PDIP memainkan gambling politik yang sangat beresiko. PDIP masih mengandalkan romantisme Bung Karno saat reformasi dulu, dengan mengabaikan suara rakyat yang telah menemukan satrio piningitnya.

Kepopuleran Jokowi saat ini tidak bisa dikalahkan siapapun dalam pencapresan. Dengan cara yang halal apapun tampaknya tidak akan bisa dikalahkan secara politik. Tetapi lawan politik Jokowi tidak pantang mundur. Para calon bursa Capres saat ini panas dingin ketika melihat hebatnya suara rakyat yang mengelu-elukan Jokowi. Biasa saja mereka memainkan peran politik dengan melobi Megawati untuk menjatuhkan Jokowi dengan berkolaborasi calon partainya dengan Mewagati atau Puan maharani.

Tetapi bila memang benar Jokowi adalah seorang satrio pingit yang dikehendaki Sang Pencipta Alam, maka tiada langkah apapun yang bisa mengganjalnya. Meski seperti saat satrio piningit itu tidak dikehendaki PDIP dalam menapaki jenjang politik menjadi Gubernur DKI. Pengalaman berat hati PDIP kepada Jokowi saat inipun bisa saja tidak akan mampu menunda sang Rising Star Jokowi untuk meraih RI-1.

Link Artikel Terkait Lainnya:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ratusan Ribu Hingga Jutaan Anak Belum Dapat …

Didik Budijanto | | 31 July 2014 | 09:36

Olahraga Sebagai Industri dan Sarana …

Erwin Ricardo Silal... | | 31 July 2014 | 08:46

Espresso, Tradisi Baru Lebaran di Gayo …

Syukri Muhammad Syu... | | 31 July 2014 | 07:05

Rasa Takut, Cinta, Naluri dan Obsesi …

Ryu Kiseki | | 31 July 2014 | 03:42

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Menipu Rakyat? …

Farn Maydian | 15 jam lalu

Gandhi-Martin Luther-Mandela = Prabowo? …

Gan Pradana | 17 jam lalu

Jokowi Hanya Dipilih 37,5% Rakyat (Bag. 2) …

Otto Von Bismarck | 19 jam lalu

Jokowi yang Menang, Saya yang Mendapat Kado …

Pak De Sakimun | 21 jam lalu

Dilema Seorang Wanita Papua: Antara Garuda …

Evha Uaga | 24 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: