Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Ariimogiri

suka aja mengamati berita-berita politik

Duet Prematur Wiranto - Harry Tanoe (WHAT)

OPINI | 05 July 2013 | 13:07 Dibaca: 1460   Komentar: 16   0

13730043261476589207

Tak ada angin tak ada hujan, beberapa hari yang lalu partai hanura mendeklarasikan pasangan bakal capres dan cawapresnya, yaitu Wiranto dan Harry Tanoe. Sebuah ketidak laziman dalam dunia perpolitikan nasional, karena untuk mengusung sebuah pasangan capres dan cawapres minimal dibutuhkan dukungan 20 % suara hasil pemilu atau 25 % kursi parlemen. Sementara kita ketahui bahwa pemilihan parlemen masih sekitar satu tahun lagi, 9 April 2014.

Jika berkaca pada hasil pemilu 2009, maka Partai Hanura menguasai 3,77 % suara pemilu dan 3,21 % kursi parlemen, sebuah jumlah yang masih sangat jauh untuk mengusung sendiri pasangan capres dan cawapresnya.

Jika kita berandai-andai partai hanura akan mengupayakan kerja-kerja yang luar biasa keras dengan dukungan dana dan media yang dimiliki oleh Harry Tanoe, mungkinkah Partai Hanura bisa mencapai 20 % suara di pemilu 2014, sementara berbagai hasil survey yang dirilis selama ini, tidak pernah menempatkan Partai Hanura mendapat suara sampai 10 %.

Maka pertanyaan berikutnya adalah, apa sesungguhnya target dari deklarasi prematur yang dilakukan oleh Partai Hanura itu?

Bisa jadi target sesungguhnya yang ingin dicapai oleh Partai Hanura adalah kontroversi dan polemik di media, yang pada gilirannya akan membuat popularitas Partai Hanura sedikit terangkat menjelang pemilu 2014. asumsi ini diperkuat dengan munculnya kontroversi internal yang muncul pasca deklarasi Wiranto – Harry Tanoe, yaitu penentangan yang dilakukan oleh Fuad Bawazier dan beberapa elit partai hanura yang mempertanyakan tentang deklarasi tersebut. ini jika dioleh lebih lenjut tentu bisa menjadi sebuah pelemik yang berkepenjangan dan menjadi sumber berita yang menarik, yang pada gilirannya semakin menggenjot popularitas Partai Hanura yang muaranya adalah peningkatan elektabilitas Partai Hanura dan Wiranto.

Nah dengan perolehan suara yang sedikit terangkat di pemilu 2014, maka posisi tawar Partai Hanura akan semakin terangkat dalam penentuan pasangan capres dan cawapres yang sesungguhnya pasca pemilu 2014. Hal ini mengingat posisi Wiranto sebagai nama yang digadang-gadang oleh Partai Hanura juga selalu jeblok di berbagai survey politik. Apalagi mengingat pengalaman kekalahan Wiranto di pilpres 2004 dan 2009 tentu menjadi sebuah nilai negatif Wiranto di mata publik, sebagaimana yang dialami oleh Megawati, sehingga kencang muncul desakan dari publik akan munculnya muka muka baru dalam pilpres 2014 nanti.

Nah dengan deklarasi berpasangan dengan Harry Tanoe yang nota bena adalah muka baru dalam perpolitikan nasional, tentu Wiranto dan Partai Hanura seolah ingin menjawab desakan itu dengan menyodorkan muka baru yang belum pernah bertanding di pilpres-pilpres sebelumnya.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menghadiri Japan Halal Expo 2014 di Makuhari …

Weedy Koshino | | 27 November 2014 | 16:39

Bu Susi, Bagaimana dengan Kualitas Ikan di …

Ilyani Sudardjat | | 27 November 2014 | 16:38

Saya Ibu Bekerja, Kurang Setuju Rencana …

Popy Indriana | | 27 November 2014 | 16:16

Peningkatan Ketahanan Air Minum di DKI …

Humas Pam Jaya | | 27 November 2014 | 10:30

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24



HIGHLIGHT

Keuntungan Minum Air Mineral di Pagi Hari …

Vitalis Vito Pradip... | 13 jam lalu

Perbandingan Cerita Rakyat Ande-ande Lumut …

Kinanthi Nur Lifie | 13 jam lalu

Kalau Nggak Macet, Bukan Jakarta Namanya …

Seneng Utami | 13 jam lalu

Merdeka Tapi Mati! …

Engly Ndaomanu | 14 jam lalu

‘Jujur dan Benar dalam Pola …

Asep Rizal | 14 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: