Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Ardi Winangun

Kabarkan Kepada Seluruh Dunia

Reaktualisasi Tujuan HMI

OPINI | 22 March 2013 | 09:10 Dibaca: 440   Komentar: 0   0

Mulai tanggal 15 hingga 22 Maret

2013, bertempat di Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta, Himpunan Mahasiswa Islam

(HMI) mengadakan kongres yang XXVIII. Sebuah tradisi dua tahunan untuk

melakukan regenerasi kepengurusan di tingkat pengurus besar (PB). Biasa dalam

acara seperti itu, kader HMI yang mencalonkan diri menjadi Ketua Umum PBHMI

melakukan penggalangan kepada peserta kongres, cabang, yang memiliki hak suara

untuk mendukung dirinya.

Sejak tahun 1947 di mana HMI

berdiri, kongres ini rutin diadakan meski ada molor-molor pelaksanaan namun

regenerasi di tingkat PB ini mampu dilakukan secara ajeg. Namun dalam setiap periode sejarah kongres tak semua kegiatan

itu mampu melahirkan peristiwa-peristiwa atau kejadian-kejadian besar, hanya

ada beberapa kongres yang menjadi ingatan yang abadi bagi kader HMI, seperti

saat ditetapkan NIK (Nilai Identitas Kader), munculnya dualisme HMI (Dipo dan

MPO), serta terpilihnya Nurcholis Madjid untuk kedua kalinya sebagai Ketua Umum

PBHMI.

Selain itu kongres HMI berlalu

begitu saja hanya sebatas terpilihnya ketua umum dan siapa-siapa saja ketua

umum yang terpilih tak semuanya mencatatkan prestasi yang dikenang bahkan

eksistensi ketua umum itu sekarang banyak yang hilang dalam peredaran jagat

politik dan keumatan.

Menarik dalam Kongres XXVIII ini

sebenarnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hendak membuka perhelatan

yang diikuti oleh ribuan kader HMI dari Sabang sampai Merauke namun

perselisihan dengan Anas Urbaningrum di Partai Demokrat merembet menimbulkan

kebencian sebagaian kader HMI kepada SBY. Mengapa masalah Anas ini bisa

merembet ke masalah-masalah yang tidak ada kaitannya dengan dengan HMI? Hal

demikian bisa saja karena masalah emosional kader HMI dalam melihat Anas. Anas

dirasa oleh kader HMI dan KAHMI sebagai sosok yang potensial. Bila tidak ada

masalah mungkin Anas bisa mencapai puncak-puncak kekuasaan di Indonesia. Namun

sayangnya karier Anas terganjal oleh dugaan-dugaan korupsi. Bagi sebagaian

kader HMI dugaan korupsi yang dilakukan Anas ini adalah bagian dari konspirasi

untuk menjegal dirinya. Hal inilah yang memicu masalah Anas dan SBY merembet ke

mana-mana.

Kembali ke kongres, disebutkan

ada sebagaian kader HMI yang terhimpun dalam Gerakan Nasional HMI Anti SBY yang

akan mengancam SBY bila pria asal Pacitan, Jawa Timur, itu akan membuka Kongres

HMI XXVIII di Hotel Borobudur, Jakarta. Sebagaian kader itu akan melakukan

tindakan seperti penghadangan konvoi Presiden. Bila konvoi ini lolos, skenario

selanjutnya adalah melakukan lempar sepatu bila SBY berada di dalam ruangan.

Gerakan nasional sebagaian kader

HMI itu merencanakan tindakan yang demikian dikarenakan SBY dirasa gagal dalam

memimpin negara dan melakukan pemberantasan korupsi. Disebut kasus korupsi yang

tidak ditangani dengan baik adalah KPK tidak melakukan pemberantasan terhadap

kasus Century hingga BLBI.

Karena ancaman yang membuat situasi

tidak nyaman bagi SBY saat membuka kongres maka kedatangan SBY dibatalkan. Bisa

saja Paspampres mengadakan pengamanan yang super ketat bila SBY tetap hadir

dalam pembukaan kongres namun hal demikian sepertinya mempunyai resiko besar

sehingga jalan yang paling aman adalah pembatalan kedatangan SBY.

Adanya tindakan yang mengancam

SBY tentu memprihatinkan bagi kita semua. Meski Presiden salah, tak eloklah

kalau kita memperlakukan ia seperti maling yang diancam-ancam. Dalam kongres

kali inilah kejadian itu terjadi. Dari Soekarno hingga SBY, sebelum mundurnya

Anas dari Partai Demokrat, hubungan HMI dan Presiden bisa dibilang mesra dan

tak mempunyai masalah. Namun hubungan ini menjadi masalah ketika sebagaian

kader melihat Anas didzolimi oleh SBY.

Sebagaian kader yang mengancam

SBY datang dengan dalih menegakan pemberantasan korupsi hal demikian pantas

didukung dan diberi acungan jempol. Namun yang perlu diberi catatan besar

ketika menegakan pemberantasan korupsi adalah hal itu harus ditujukan kepada

semuanya tanpa pandang bulu. Jangan sampai pemberantasan korupsi hanya

ditujukan kepada orang-orang tertentu sementara bila diantara kita sendiri

malah dilindungi.

Harus diakui bahwa tindak korupsi

juga dilakukan oleh sebagaian alumni HMI dan hal demikian menjadi isu-isu yang

saat ini berkembang. Alumni HMI melakukan tindak korupsi bukan saat ini saja

namun sebelumnya sudah ada yang melakukan. Saat ini ada yang sudah dipenjara

ada pula yang masih diproses. Menjadi pertanyaan mengapa mereka tidak dihadang

dan dilempari sepatu oleh sebagaian kader yang hendak menghadang SBY tadi? Di

sinilah ketidak-fair-an kita dalam

melakukan pemberantasan korupsi. Biasanya di antara kita bila ada orang lain

korupsi, kita teriak-teriak, namun bila yang melakukan adalah teman atau rekan

sendiri, Kita diam seribu bahasa. Jangan sampai kader HMI dan KAHMI diam saja

ketika kedua organisasi itu dijadikan bunker koruptor.

HMI yang didirikan pada 5

Februari 1947 salah satu alasannya adalah mempertahankan bangsa Indonesia dari

ancaman penjajahan. Tujuan HMI yang demikian tentu sangat mulya. Ini menunjukan

bahwa HMI mempunyai kepedulian terhadap keberlangsungan bangsa Indonesia.

Saat ini bangsa Indonesia tengah

dililit oleh maraknya korupsi yang demikian menggejala dan menjalar ke

mana-mana. Melihat hal yang demikian, HMI harus mereaktualisasikan tujuan

organisasi ini dirikan. Negara yang hampir ambruk karena korupsi ini harus

diselamatkan. Untuk itu seluruh kader HMI untuk bersama-sama berusaha

mempertahankan bangsa ini dari ancaman korupsi yang demikian massifnya seperti

massifnya kedatangan penjajahan pada masa itu.

Dalam mempertahankan bangsa dari

ancaman korupsi, HMI harus bersikap tegas dan tanpa pandang bulu kepada

siapa-siapa saja yang melakukan tindak korupsi. Tidak bisa HMI melakukan

tindakan yang selama ini dituduhkan kepada SBY yakni tebang pilih dalam

melakukan pemberantasan korupsi. HMI harus menebang siapa saja yang melakukan

tindakan korupsi.

Agar Kongres XXVIII ini dicatat

sejarah, maka peserta kongres dalam kesempatan ini harus berani mendeklarasikan

Gerakan HMI Antikorupsi kepada siapa saja, di mana saja, dan kapan saja.

Gerakan ini selanjutnya tak hanya dideklarasikan namun juga harus

direalisasikan dan dilaksanakan. Gerakan antikorupsi merupakan reaktualisasi

dari tujuan berdirinya HMI yakni mempertahankan bangsa ini dari penjajahan

(korupsi).

Pin BB: 27C1A2D5 

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Peran Kita untuk Menghindari Jebakan Negara …

Apung Sumengkar | | 01 August 2014 | 15:26

Tunjangan Profesi Membunuh Hati Nurani …

Luluk Ismawati | | 01 August 2014 | 14:01

Empat Cincin Jantungnya Masuk Lewat Pembuluh …

Posma Siahaan | | 01 August 2014 | 13:46

B29: Medan Ekstrim Intip Keindahan Bromo …

Teguh Hariawan | | 01 August 2014 | 08:09

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Info Hoax Umar Abuh Masih Disebarkan …

Gatot Swandito | 7 jam lalu

ANTV Segeralah Ganti Nama Menjadi TV India …

Sahroha Lumbanraja | 11 jam lalu

Kader PKS, Mari Belajar Bersama.. …

Sigit Kamseno | 13 jam lalu

Kalah Tanpo Wirang, Menang Tanpo Ngasorake …

Putra Rifandi | 14 jam lalu

Macet di Jakarta Gubernur Disalahkan, …

Amirsyah | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: