Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Roziqin Matlap

suka dengan hal-hal yang berbau hukum, politik, agama, sosial

Kampanye Itu dengan Tindakan Nyata, Bukan dengan Kata-Kata

OPINI | 22 March 2013 | 07:39 Dibaca: 484   Komentar: 0   0

Ada dari anda yang menikmati acara kampanye partai politik? Atau sering datang di acara kampanye partai politik? Saya sih dari dulu tidak pernah datang sekalipun ke acara kampanye partai politik. Saya paling nonton dari tv bila ada acara debat partai. Itu sekedar untuk tahu seberapa cerdas orang partai politik. Dari sana saya tahu ternyata banyak janji yang terucap. Sayangnya, saat terpilih nanti, mereka lupa akan janji kampanye. Eh, ga ding, tidak semuanya lupa. Sebagian bukan lupa, tapi emang dari awal sudah berbohong dalam kampanye, jadi tidak berniat berjanji apapun. Sering perdebatan bukan dalam tataran substansi, tapi hal yang remeh temeh. Dahulu sekitar tahun 1990an pernah mendengarkan kampanye yang dibungkus pengajian. Sebagian isinya mengumpat tokoh/partai lain, sebagian lagi isinya menjustifikasi partainya atas nama agamanya. Yang memilih partai tersebut dijanjikan masuk surga. Kalau tidak memilih partai itu? hehe.

Sejauh pengamatan saya, kampanye yang dengan dana sangat banyak, dan mengumpulkan orang banyak, seringkali tidak sertai dengan pendidikan politik masyarakat. Yang diajarkan sering berupa kebencian kepada partai lain, janji-janji muluk yang tidak realistis. Kadang saya merasa lucu bila ada partai yang menjanjikan bahwa dana pendidikan dan kesehatan gratis, sementara ia tidak tahu hitung-hitungan APBN/APBD, dan bagaimana cara merelisasikannya.

Bagi incumbent, kampanye sering menggunakan dana APBN/APBD. Kampanye dibungkus dalam acara perjalanan dinas kemudian diselingi kampanye, pemberian sumbangan oleh kepala daerah dengan menggunakan dana bansos-hibah, dll. Iklan di tv dan reklame dengan biaya yang mahal dibungkus dengan sosialisasi hal-hal sepele. Sosialisasi tersebut sebenarnya bisa dilakukan oleh orang biasa, tidak harus melulu memunculkan wajah sang pejabat. Saya yang tinggal di Kabupaten Bogor pun bosan melihat wajah calon Bupati incumbent hampir di sepanjang jalan di Kabupaten Bogor. Tidak hanya di sepanjang jalan, wajah sang calon Bupati incumbent ditampilkan juga  di spanduk-spanduk yang terpasang di gedung pemerintahan. Tindakan yang sama sebelumnya juga dilakukan calon Gubernur Jawa Barat incumbent.

Menurut hemat saya, kampanye lebih efektif apabila dilakukan dengan karya nyata. Orang yang sudah bekerja untuk daerahnya, misalnya: membina karang taruna, aktif di organisasi keagamaan, melakukan pendidikan politik dan pemberdayaan masyarakat, dll tentu akan langsung terpilih tanpa kampanye yang muluk-muluk. Tindakan yang nyata, lebih berarti daripada kata-kata. Bagi incumbent, tentu kampanye dengan karya nyata lebih mudah dilakukan. Bila lima tahun ia bisa mengubah kultur birokrasi menjadi birokrasi yang melayani, membangun jalan raya dengan baik, membangun puskesmas/rumah sakit/rumah bersalin yang mudah dan murah sehingga bisa diakses dengan baik oleh masyarakat, mempermudah akses anak-anak untuk meraih pendidikan, tentu itu sudah lebih dari cukup untuk jalan baginya terpilih di periode sebelumnya. Sayangnya, calon incumbent sering merasa pantas untuk dipilih di periode selanjutnya, meski ia sendiri tidak becus bekerja dalam kurun waktu lima tahun sebelumnya. Jika kampanye hanya kata-kata tanpa tindakan nyata, maka jangan kaget bila angka golput  cenderung terus meningkat, bahkan lebih banyak dari keseluruhan suara pemilih. Bagi saya, kampanye adalah tindakan nyata, bukan kata.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Penambang Belerang Kawah Ijen yang …

Mawan Sidarta | | 17 September 2014 | 10:13

Nangkring dan Test Ride Bareng Yamaha R25, …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 06:48

Ketika Guru Masih Bermental Plagiat, Apa …

Muhammad | | 17 September 2014 | 14:58

Seni Bengong …

Ken Terate | | 16 September 2014 | 16:16

[Fiksi Fantasi] Keira dan Perjalanan ke …

Granito Ibrahim | | 17 September 2014 | 08:56


TRENDING ARTICLES

Bangganya Pakai Sandal Jepit Seharga 239 …

Jonatan Sara | 6 jam lalu

Percayalah, Jadi PNS Itu Takdir! …

Muslihudin El Hasan... | 9 jam lalu

Yang Dikritik Cuma Jumlah Menteri dan Jatah …

Gatot Swandito | 9 jam lalu

Sebuah Drama di Akhir Perjalanan Studi …

Hanafi Hanafi | 10 jam lalu

Di Airport, Udah Salah Ngotot …

Ifani | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Warga Cidolog Ciamis “Duga” …

Asep Rizal | 8 jam lalu

RUU Kelautan Masuk Pembahasan Tingkat I …

Bicara Laut | 8 jam lalu

Ternyata Kebiasaan Bohong Dapat Dicegah …

Rahmah Hayati | 8 jam lalu

5 Hal yang Perlu Dipertimbangkan dalam …

Hendra Makgawinata | 8 jam lalu

[Fiksi Fantasi] Peri Terasi …

Dewi Ari Ari | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: