Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Dimasmul Prajekan

anak desa mencari makna hidup

Pembelajaran Demokrasi Dari PKS

OPINI | 21 March 2013 | 15:50 Dibaca: 364   Komentar: 2   0

Bersyukurlah bangsa Indonesia karena memiliki PKS. Sebuah partai yang berdiri pasca reformasi 1998.Partai Islam inklusif ini telah turut berkontribusi untuk tumbuh kembangnya demokrasi di Indonesia.Partai yang didominasi oleh anak -anak muda muslim terdidik telah menghasilkan sebuah tayangan ‘demokrasi’ yang memukau.Dalam perjalanannya selama 15 tahun  sejak berdirinya ternyata PKS yang dulu bernama Partai Keadilan itu telah memperagakan sebuah demokrasi yang menawan. Kenapa tidak , setiap suksesi kepemimpinan untuk memilih Presiden Partai, tak pernah ribut -ribut, apalagi sampai berdarah -darah. Dari sudut pandang demokrasi, PKS dianggap partai yang paling berhasil mereduksi konflik internal, kalau tidak mau menyebut tidak pernah ada konflik  karena perebutan ‘tahta’ kekuasaan di partai. Sejak era Nurmahmudi Ismail, Hidayat Nurwahid, Tifatul Sembiring, Lutfi Hasan Ishak , hingga Anis Matta tidak pernah terjadi baku hantam, tidak ada faksi -faksi yang selalu membuat gaduh dalam acara pemilihan pengurus baru.

Kalau begitu PKS hanya ditentukan oleh Majelis Syuro? .  Tidak juga. Penentuan Presiden Partai tidak berarti Ketua Majelis Syuro punya kewenangan absolute untuk menentukan sang penerus.  Majelis Syuro bersikap realistis berdasarkan pemilihan internal  di tingkat kader yang disebut Pemilu Raya yang sifatnya juga luber jurdil. Hal ini dilakukan jauh -jauh hari sebelum Munas digelar. Jadi pada saat pelaksanaan Munas hanyalah bersifat pengukuhan saja, karena calon -calon yang muncul sudah kelihatan rekam jejak di partai jauh -jauh hari. Jadi jangan harap simpatisan yang baru bergabung dengan kekuatan finansialnya bisa masuk kandidat Presiden Partai. Disinilah kelebihan parai dakwah ini untuk menyeleksi nama -nama yang muncul berdasar tingkat militansinya dan pembelaannya kepada partai. Dengan cara ini PKS berhasil membentengi diri dari ‘kutu loncat ‘ yang tidak memahami visi dan misi partai. Dan ditengah fenomena muncurlnyab ‘ pasar loak politik’ , nama -nama besar dibeberapa partai tengah menjual diri   untuk menyebrang ke partai lain, PKS tak terlalu tergelitik untuk membeli nama-nama di pasar loak politik. PKS konsisten untuk benar -benar mengutamakan  kader -kader terbina.

Menjelang pemilihan ? Tidak ada kampanye yang saling ganjal mengganjal. Tidak ada black champagne, tidak ada selebaran yang saling menjatuhkan.Sebab para kandidat tidak diperkenankan untuk berkampanye.Dengan mekanisme seperti ini ternyata dampaknya luar biasa. Efisiensi dan efektifitas khususnya financial dan waktu bisa ditekan seminimal mungkin. Bayangkan dalam sebuah perhelatan setingkat muktamar atau kongres, berapa pundi -pundi partai yang harus dikeluarkan. Sejak dari urusan konsumsi hingga sewa hotel berbintang. Belum lagi pschychologi massa yang bila ada mengompori untuk berpanas -panas ria dalam konggres  akan menjadi semakin panas suasananya.

Konon sebuah partai yang menyelenggarakan perhelatan sejenis konggres telah kehilangan bermilyar -milyar rupiah dari kocek partai. Belum lagi dari kocek pribadi sekedar memberi uang transport kepada para simpatisannya (  voter ) sang kandidat. Wooww, kalau di PKS itu tidak pernah ada. Sehingga pas pada cara yang dimaksud, kegiatan berlangsung damai, penuh ukhuwah, penuh kekeluargaan,karena yang terpilih akan mendapat tugas berat untuk membesarkan partai, menyebarkan dakwah, menyentuh hati untuk terus berbakti kepada Tuhannya, tidak sekedar cinta duniawi semata, atau duduk manis menunggu jatah kursi di kabinet.

Kenapa PKS mampu mendemonstrasikan demokrasi yang efisien dan efektif itu tanpa harus menggunting peran dan potensi kader yang memang cukup potensial ? Tentu hal ini disebabkan adanya ’sistem’ yang sudah berjalan baik.  Sistem yang baik akan menelurkan pribadi -pribadi yang baik, Pribadi -pribadi yang baik akan melahirkan anggota yang baik. Anggota -anggota yang baik akan mengemplementasikan akhlaq  -akhlaq berpolitik yang santun.Kalau di partai lain ‘ kursi ketua umum’ menjadi incaran setiap kader, di PKS ‘ kursi’ ternyata tidak terlalu menarik untuk diperebutkan. PKS beranggapan ‘kursi’ adalah amanah yang harus menghadirkan kemanfaatan bagi banyak orang bukan kepentingan pribadi. Kenapa partai -partai tidak melirik kebaikan yang telah dihadirkan PKS ?

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fort Marlborough dan Tugu Thomas Parr, Saksi …

Sam Leinad | | 21 April 2014 | 12:34

Dekati ARB, Mahfud MD Ambisius Atau …

Anjo Hadi | | 21 April 2014 | 09:03

Menjadi Sahabat Istimewa bagi Pasangan Kita …

Cahyadi Takariawan | | 21 April 2014 | 07:06

Bicara Tentang Orang Pendiam dan Bukan …

Putri Ratnaiskana P... | | 21 April 2014 | 10:34

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Demonstrasi KM ITB: Otokritik untuk …

Hendra Wardhana | 7 jam lalu

Bagaimana Rasanya Bersuamikan Bule? …

Julia Maria Van Tie... | 12 jam lalu

PDIP dan Pendukung Jokowi, Jangan Euforia …

Ethan Hunt | 13 jam lalu

Akuisisi BTN, Proyek Politik dalam Rangka …

Akhmad Syaikhu | 14 jam lalu

Jokowi-JK, Ical-Mahfudz, Probowo-…? …

Syarif | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: