Back to Kompasiana
Artikel

Politik

I n i .. Kesalahan SBY Pada Anas !

OPINI | 20 March 2013 | 10:15 Dibaca: 383   Komentar: 0   0

4481bb95ec350dba7f512007e0086ad9

Setenang, sekalem apapun bahasa atau sikap Anas Urbaningrum, namun umum semakin nyata melihat kebencian Anas terhadap sesepuhnya, ketua pembina partai, Susilo bambang Yudoyono.

Kalau kita membayangkan wujud partai Demokrat sepertinya kita melihat satu makhluk yang berkepala dua. Apakah macan berkepala dua, ular berkepala dua, atau orang yang berkepala dua.  Ada dua kekuatan, ada dua kubu atau dua menara yang sama tinggi dan kuatnya ditubuh partai Demokrat. Hal mana juga bisa terjadi pada partai-partai lainnya namunlah bukan masalah, karena memang belum jadi masalah, sebagaimana sebelumnya juga bukan masalah bagi partai Demokrat.

Namun apalah arti Anas dengan kecerdasan dan semangatnya (ambisius?) jika dibanding SBY yang lebih luas wawasan dan hubungannya. Anas hanya berupa anak kecil bandel saja bagi SBY. Dan keduanya memang menerima kenyataan ini, maka sementara akrab dan mesrahlah hubungan keduanya. Apalagi ditambah dengan Edy (Ibas) sebagai sekjen Demokratnya.

Anas Urbaningrum adalah kader muda, cerdas, ambisius, yang menjadi ketua umum partai Demokrat dengan banyak pendukung dari pimpinan pimpinan cabang partai. Sedangkan SBY sekarang telah menduduki jabatan tertinggi, menjadi orang nomer satu dinegeri ini. Masih menjadi sesepuh atau ketua pembina partai Demokrat, bekas ketua, dan dianggap menjadi orang yang meniup balon kecil Demokrat (empet2an) menjadi balon besar(dakocan Mc Donald).

Lantas kenapa? Apa yang terjadi sekarang ??? Perang saudara ?  ha..ha..ha.. bukan! Karena sebelumnya keduanya juga tidak punya ikatan persaudaraan dalam hati (politik Bro..!).

Biangkerok perenggang, pecah, dan memanasnya hubungan kedua tokoh diatas adalah ” Muhammad  Nazaruddin “.  Saya mengatakan ini seandainya saya berada didalam Demokrat, kalau dari kacamata umum (khususnya saya) M.Nazaruddin adalah seorang mantan pejabat (koruptor), warganegara terberani yang pernah saya lihat(walau sebenarnya mungkin banyak).

Memang harus dipahami juga “keberanian” dan “kebodohan” beda-beda tipis! Nazarudin bersikap berani bukan disebabkan oleh kebodohannya, Nazar cerdas! Dia tahu, semua atau siapa saja yang terseret kasus Hambalang, pasti dia akan, Selesai..! Dan buat Nazar sendiri semua ini dilakukan demi untuk memberikan jawaban kepada teman teman koruptornya bahwa, ” Benar ! kita bukanlah teman…”.

Kembali pada bagaimana bisa timbul rasa marah Anas kepada SBY( kelihatannya memang Anas marah, SBY sepertinya hanya nampak tidak suka pada profile Anas). Penyebab atau yang menyebabkan Anas marah pada SBY yang benar pasti tahu adalah Anas Urbaningrum sendiri.

Kita sebagai rakyat kecil yang secara tidak langsung terkena imbas kemelut politik, korupsi,dinegeri ini. Setiap hari, berbulan-bulan dijajah harapan, kebohongan, kekecewaan, memaki-maki setiap hari, menduga-duga/berandai-andai, yang menyebabkan timbulnya pendapat  pendapat yang tidak jelas, seperti pendapat saya yang akan saya nyatakan ini yang memang tidak jelas (benar atau tidak), menyangkut sulitnya penyelesaian kasus korupsi Hambalang dan sandiwara sandiwara politik ditubuh partai yang telah mendapat kepercayaan dari rakyat, termasuk saya yang telah ikut menjadi pemilih partai berlambang mercedez ini.

Saya mulai dengan rasa heran, kenapa tidak pada  Nazaruddin, angelina Sondakh, Andy Malarangeng,dll, namun pas ketika Anas dijadikan tersangka oleh KPK barulah timbul perseteruan antara Anas dan SBY? Apakah Anas akan menjadi seorang peniup kebenaran?

1. Andai saya memposisikan diri sebagai Anas.

-Saya orang muda, cerdas, bersemangat, banyak pendukung, dan  sekarang saya adalah  ketua partai besar dan berkuasa dinegeri ini, dan saya adalah yang terbesar.

-Namun ruang gerak saya masih agak sempit, karena masih ada  ketua pembina partai yang punya kharisma dan adalah orang nomer satu  dinegeri ini dilingkungan kekuasaan saya. Tapi oke lah, saya terima, memang ini kenyataannya.

- Tapi sekarang manakala saya disangka/terlibat kasus korupsi,  mana pembelaan dari sang ketua pembina, yang telah kita usung   menjadikannya sebagai penguasa dinegeri ini, yang bisa banyak berbuat. Bahkan semakin  lama nampaknya beliau semakin tidak perduli. Apakah dia tidak tahu ada lagi anggota anggota  penting partai yang juga ikut terlibat dalam kasus saya ini, atau kasus kasus lain yang saya ketahui dan saya dengar. Apakah saya terlalu kecil untuk dipertahankan.

Apa dia fikir saya akan terima jatuh sendiri dan membiarkannya   enak- enakkan santai menjadi penguasa negeri, dihormati, tetap dan makin memiliki Demokrat?

2. Andai saya memposisikan diri sebagai SBY.

- Saya adalah seorang Presiden yang harus menjalankan roda  pemerintahan dengan  sebenarnya (takut ketahuan kalau ingkar   janji).

- Saya presiden juga manusia. Saya tidak bisa melupakan teman  (kalau dia tidak melupakan duluan), Saya tidak bisa melupakan  jasa jasa seseorang, dan saya masih  merasa bukanlah seorang  kanibal yang doyan daging sejenis, sebaris, apalagi sedarah.

- Namun apabilah memang harus menghadapi situasi tertentu (harus memakan buah simalakama) Saya bukan nabi atau orang sakti yang bisa menghipnotis orang satu negeri terpaksa saya melihat sesuatu yang baik adalah  dengan  melihat  teori orang bermain  bulu tangkis “teori tergantung angin”.

- Dalam kasus Hambalang SBY tidak bisa meng   I n t e r v e n s i   KPK dan Dpr, Karena KPK sedang menang angin !. Kalau saja SBY bisa mengintervensi KPK, dan kasus hambalang  berhenti hanya sampai pada tersangka dibawah level Andy  Malarangeng, selesai lah itu barang!

Sedangkan dugaan lain dimana SBY mengintervensi KPK untuk mendepak Anas mental dari Demokrat, walau tetap ada kemungkinannya kecil . Tidak sebanding terlalu mahal perkiraan hutang yang harus dibayar oleh SBY. Walaupun memang SBY merasa senang dengan diputuskannya Anas sebagai tersangka oleh Kpk, karena ini membantu meringankan beban beratnya dari harus mengambil keputusan pada dua pilihan yang tidak ada enak-enaknya.

Sepertinya SBY masih ok sedikit dengan segala kekurangannya !

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Promosi Multikultur ala Australia …

Ahmad Syam | | 18 April 2014 | 16:29

Sesat Pikir Koalisi …

Faisal Basri | | 18 April 2014 | 19:08

Liburan Paskah, Yuk Lihat Gereja Tua di …

Mawan Sidarta | | 18 April 2014 | 14:14

Untuk Capres-Cawapres …

Adhye Panritalopi | | 18 April 2014 | 16:47

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Kue Olahan Amin Rais …

Hamid H. Supratman | 16 jam lalu

Puan Sulit Masuk Bursa Cawapres …

Yunas Windra | 17 jam lalu

Misteri Pertemuan 12 Menit yang Membungkam …

Gatot Swandito | 17 jam lalu

Bila Anak Dilecehkan, Cari Keadilan, …

Ifani | 20 jam lalu

Semen Padang Mengindikasikan Kemunduran ISL …

Binball Senior | 21 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: