Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Ira Oemar

Live your life in such a way so that you will never been afraid of selengkapnya

Pidanakan Orang Tua yang Sengaja Memfasilitasi Anak di Bawah Umur Berkendara di Jalan Raya

HL | 08 September 2013 | 17:10 Dibaca: 5197   Komentar: 99   27

1378634454716522469

foto : www.kapanlagi.com

Kalau anda rutin mengikuti segmen berita di televisi khususnya hari Minggu pagi, hampir setiap pekan akan mendengar berita mengenaskan tentang kecelakaan – entah tunggal atau melibatkan lebih dari satu kendaraan – yang terjadi di wilayah hukum Polda Metro Jaya. Hal ini kerap jadi perhatian saya, semisal mobil Mercy mewah yang meluncur hingga “nyemplung” ke kolam di Bunderan HI, atau sebuah kecelakaan tunggal beberapa bulan lalu di toll dalam kota Jakarta dimana penumpangnya – seorang wanita muda dan pria – ditemukan dalam kondisi nyaris tanpa busana. Juga kecelakaan sebuah mobil mewah dimana didalamnya ditemukan narkoba dalam jumlah cukup besar. Ada beberapa kemiripan dari sekian banyak kasus kecelakaan yang terjadi pada malam Minggu/ dini hari, antara lain : biasanya kendaraan pemicu kecelakaan termasuk jenis mobil mewah, pengemudi dalam keadaan mengantuk berat sehabis “dugem” atau bahkan lebih parah lagi dalam pengaruh alkohol atau drugs, mobil dipacu dalam kecepatan tinggi dan umumnya waktu kejadian adalah selepas tengah malam hingga dini hari. Kecelakaan di Tugu Tani, Xenia maut yang merenggut 9 nyawa dan 5 terluka pada Januari 2012 juga terjadi hari Minggu saat libur long weekend dalam rangka libur Imlek. Begitupun kecelakaan yang diakibatkan kelalaian Rasyid Amrullah Radjasa, terjadi jelang Subuh setelah pengemudinya merayakan malam pergantian tahun.

Tadi pagi, sekitar jam 5.20-an, TV One dalam segmen Kabar Pagi memberitakan kecelakaan yang melibatkan anak musisi Ahmad Dhani, Abdul Qodir Jaelani alias Dul. Reportase langsung dari pelataran RS Meilia Cibubur itu dilengkapi wawancara dengan polisi yang menangani kasus tersebut dan dengan Ahmad Dhani. Menurut keterangan polisi, kecelakaan bermula ketika sebuah sedan Mitsubishi Lancer yang kehilangan kendali hingga menabrak pembatas jalan toll dan merangsek masuk ke jalur yang berlawan arah, lalu menabrak mobil Avanza hitam dari samping dan tetap melaju hingga menabrak sebuah Daihatsu Grand Max dari depan. Lima orang penumpang Grand Max tewas seketika, sementara 11 orang lainnya dari ketiga kendaraan itu mengalami luka berat.

Polisi hanya menyebut bahwa sampai saat itu belum diketahui apa penyebab hilangnya kendali sedan Lancer. Ketika wartawan bertanya benarkah pengemudinya masih di bawah umur, barulah polisi membenarkan bahwa penumpang Lancer hanya 2 orang dan keduanya masih berumur 13 dan 14 tahun. Hal ini cocok dengan keterangan Dhani yang mengakui anaknya sedang bersama temannya di mobil tersebut, seusai mengantar pulang pacarnya. Artinya : apapun penyebab sedan Lancer hilang kendali, fakta bahwa pengemudinya adalah ABG usia SMP sudah cukup membuktikan bahwa Lancer penyebab kecelakaan beruntun ini dikemudikan oleh orang yang belum dewasa dan belum memiliki ijin mengemudi. Terlepas apakah mereka sedang di bawah pengaruh miras atau tidak, sebab saat ini masih dilakukan pemeriksaan atas urine dan darah Dul.

13786346181024497766

foto : metro.news.viva.co.id

Herannya, sekitar 10-11 jam pasca kecelakaan, ketika saya mencoba googling berita dengan kata kunci “dul kecelakaan”, hampir semua portal berita dan media online memberikan judul “Dul salah satu korban kecelakaan”. Dua media televisi, melalui tayangan infotainment pun telah menyebut kronologis kejadian yang sama, yaitu bermula ketika mobil yang dikendarai Dul hilang kendali dan seterusnya. Dalam segmen Berita Siang di Metro TV, bahkan disertai grafis yang menunjukkan kronologi serta posisi masing-masing mobil pada saat kejadian. Bahkan dari hasil olah TKP diketahui bahwa pembatas jalan toll sampai jebol dan menempel pada bodi mobil sedan Lancer milik Dul yang saat itu melayang ke jalur seberangnya. Kendati demikian, tetap saja polisi menyebutkan belum bisa menentukan apa penyebab kecelakaan itu. Jika si Dul disebut “korban”, maka sesungguhnya siapakah pelaku “penyebab” kecelakaan?

Berbeda dengan kecelakaan Xenia maut Afriani atau BMW maut Rasyid Radjasa, dimana media dan polisi bisa langsung menyebut siapa yang menjadi penyebab kecelakaan, dalam kasus ini tetap dinyatakan belum diketahui penyebab kecelakaan, meski sudah dipastikan Dul-lah yang berada di belakang kemudi sedan Lancer saat kecelakaan itu terjadi. Dalam keterangannya ketika ditanya wartawan, seorang polisi – maaf saya lupa nama dan jabatannya – menyebutkan bahwa Dul anak yang masih di bawah umur, sehingga berlaku Undang-Undang Perlindungan Anak. Dalam hal ini Dul adalah anak yang mendapat perlakuan yang salah dari orang tuanya, sehingga orang tuanya terancam akan dicabut hak asuh atas anaknya. Disebutkan pula, jika orang tua si anak yang mengijinkan anaknya mengemudi, maka orang tuanya diancam pidana 5 tahun penjara.

Situs kapanlagi.com menyebutkan mobil itu adalah pemberian Ahmad Dhani sebagai hadiah ultah ke-13 untuk Dul yang jatuh pada 23 Agustus lalu. Tak dinyana, 2 pekan kemudian hadiah mewah itulah yang mencelakakan Dul. Memberikan suatu barang sebagai hadiah ultah bagi anak, berarti mengijinkan si anak menggunakan barang tersebut. Apa bedanya memberi hadiah baju, sepatu, mainan, alat olah raga, perangkat komputer, gadget dengan mobil? Esensinya sama bukan? Ini untukmu, Nak. Silakan saja kau pakai sesukamu, ini kami hadiahkan untukmu, maka barang ini sepenuhnya milikmu. Masalahnya : bijakkah memberikan ABG yang masih labil emosinya dan masih belum matang pemikirannya sebuah mobil? Kelalaian menggunakan bukan hanya berakibat nyawa si anak yang terancam bahaya, tapi nyawa orang tak bersalah disekitarnya pun bisa kena getahnya.

1378634742110179828

Di saat ulang tahun ke-13 inilah Dul mendapatkan hadiah mobil dari ayahnya (foto : www.kapanlagi.com)

Setiap tahapan usia anak selalu memiliki batasan apa yang pantas dan tidak pantas, bahkan apa yang boleh dan tidak boleh. Semisal, anak usia 4 bulan hanya boleh minum ASI, kalaupun diberi asupan tambahan hanyalah susu formula yang tepat bagi bayi seusianya. Adakah orang tua – sekaya apapun – yang mencoba mencekokkan kopi kualitas terbaik di dunia bagi bayinya, meski harga secangkir kopi itu ratusan ribu rupiah? Bayi umur 7 bulan yang baru boleh diberi makanan tambahan berupa bubur bayi/saring, adakah ortu tajir yang menyuapi bayinya dengan tenderloin steak bikinan chef terkenal dari restoran termahal? Bayi umur 1,5 tahun yang baru belajar berjalan umumnya dibelikan sepatu empuk yang kalau diinjak menimbulkan bunyi menarik sehingga si anak termotivasi untuk melangkah. Adakah ortu terkaya yang membelikan anak umur 1,5 tahun sepatu fantovel berhak tinggi merk Bally sekalipun? Tentu semua jawaban dari pertanyaan itu adalah TIDAK. Sebab dapat membahayakan keselamatan dan kesehatan si anak.

Lalu kenapa ketika anak mulai beranjak remaja, orang tua kerap terburu-buru memberikan barang yang tak sesuai dengan usia si anak? Padahal, kesalahan memberikan barang itu bukan hanya membahayakan keselamatan si anak, melainkan banyak orang lain bisa jadi korban. Beberapa bulan lalu saya pernah membaca sebuah berita di internet, seorang milyuner asal India – kalau tak salah ingat – menghadiahi anaknya sebuah mobil mewah saat ultah si anak yang masih di bawah 17 tahun. Negara kemudian menghukum ayah si anak tersebut dengan denda yang cukup besar dan menyita mobil mewah tersebut. Lho kenapa? Bukankah dia beli dengan uang sendiri? Toh itu juga anaknya sendiri? Benar, tapi pertimbangan hukumnya : tindakan si ayah yang tak bijak itu berpotensi mencelakakan si anak dan orang lain, para pengguna jalan.

Di Indonesia sendiri bagaimana? Sekitar setahun lalu ada kerabat seorang artis/pesinetron yang tewas dalam kecelakaan maut saat mengendarai mobil mewah. Gadis cantik itu mendapat mobil sebagai hadiah ultahnya. Tampaknya bagi sebagian kaum tajir metropolitan, memberi mobil mewah untuk hadiah ultah anak sudah jadi sesuatu yang biasa. Tak terpikirkan oleh mereka kemungkinan hadiah itu justru berbalik jadi pencabut nyawa anak mereka. Belum lagi kalau si anak mengemudikannya di jalan raya/jalan toll, pemakai jalan lainnya bisa kena getahnya.

Jika benar Undang-Undang Perlindungan Anak sudah mengakomodir pasal tentang perlakuan salah terhadap anak dari ortunya bisa berakibat hak asuh atas anak dicabut, maka kasus yang menimpa Dul ini bisa jadi momentum yang tepat untuk menerapkannya. Di negera yang lebih maju peradabannya, orang tua yang kerap berlaku tak senonoh di depan anak, menderita ketergantungan pada alkohol dan drugs, serta hal-hal lain yang dianggap tidak baik bagi perkembangan jiwa anak, maka negara akan mencabut hak asuh anak dan selanjutnya pengasuhan anak di bawah perwalian negara, jika tak ada sanak keluarga lain mengasuhnya.

13786349241169861902

Kondisi minibus GrandMax yang ringsek parah (foto : www.tribunnews.com)

Sebagai pesohor yang kisruh rumah tangganya kerap disorot infotainment, publik sudah faham bahwa putusan hukum dari perceraian Dhani–Maya adalah memberikan hak asuh anak kepada Maya. Namun, meski Maya sudah memenangkannya sampai ke tingkat kasasi, tetap saja Dhani menguasai pengasuhan atas 3 anak mereka. Dhani selalu berdalih dirinya sanggup mendidik ketiga anaknya dengan baik. Bahkan ketika 2 tahun lalu beredar foto Al (anak sulungnya) sedang memegang rokok dan sebotol miras, Dhani berkilah itu terjadi karena si Al sedang menginap di rumah Bundanya. Padahal, kejadian seperti itu bukanlah hasil dari perbuatan sesaat saja. Bahkan belakangan terungkap bahwa “lari”nya Al ke rumah Bundanya karena dia sedang marah dan merasa tak nyaman dengan kondisi rumah ayahnya, dimana Dhani memboyong Mulan dan bayi mereka ke rumahnya. Semestinya, Dhani introspeksi, tidakkah ia juga punya andil membuat anaknya lari ke rokok dan minuman keras?

Perilaku Dul berkendara meski tak punya SIM, terjadi karena difasilitasi oleh ayahnya. Dengan membelikan mobil untuk Dul, berarti Dhani sengaja mengijinkan anaknya berkendara. Kini, Dul sudah jadi korban ketidakbijakan sang ayah. Anak itu tentu menderita 2 kali : menderita tekanan psikis dan trauma akibat kecelakaan, apalagi bila ia tahu ada 6 nyawa – satu orang lagi meninggal sekitar jam 9 pagi di RS –melayang akibat kelalaiannya, serta menderita fisik akibat patah kaki. Dul memang belum layak dipidanakan karena masih di bawah umur, maka selayaknya ayah yang telah memfasilitasinya untuk mengendari mobil itulah yang menanggung akibat hukumnya. Apalagi, jika ternyata anak itu tidak pernah dikontrol kapan, dimana dan sampai jam berapa ia boleh berkendara. Seorang anak umur 13 tahun, lewat tengah malam masih kebut-kebutan di jalan toll, bukankah ini hasil didikan yang tidak baik? Anak memang selalu jadi korban, terutama jika orang tua berpikir melimpahi anak dengan hadiah mewah identik dengan menyayangi anak. Semoga saja dalam kasus ini, pihak yang paling bertanggungjawab atas kelalaian si anak, dapat dijatuhi hukuman pidana karena telah memperlakukan anak dengan cara salah. Agar jadi pelajaran bagi orang tua lainnya.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

50 Yacht Luar Negeri “Serbu” …

Mustafa Kamal | | 25 October 2014 | 23:43

Upacara Adat Satu Suro Kampung Adat Cirendeu …

Sandra Nurdiansyah | | 26 October 2014 | 00:06

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri, Polycarpus, BIN dan Persepsi Salah …

Ninoy N Karundeng | | 26 October 2014 | 08:45

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25



HIGHLIGHT

Kapitalisasi Pendidikan …

Mokhsa Imanahatu | 7 jam lalu

Love Is Blind? …

Hanifah Khairunnisa | 7 jam lalu

Akhir Pekan di Pemakaman …

Hari Akbar Muharam ... | 8 jam lalu

Serunya Wisata Naik Lori! …

Aryanto Wijaya | 8 jam lalu

Sofyan-JK; Who Is The Real President? …

Edy Mulyadi | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: