Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Pakde Kartono

Sayang istri, sayang anak, makanya disayang Allah

[LHI-AF] Ahmad Zaky Ditangkap, KPK Tetapkan Tersangka Baru?

OPINI | 30 May 2013 | 08:44 Dibaca: 1364   Komentar: 45   16

1369882100975235320

Zaky ditangkap KPK, foto dr detik.com

Jarang-jarang penyidik KPK menjemput paksa seseorang untuk diminta keterangan sebagai saksi atas tersangka di KPK. Sebagian besar orang yang dipanggil KPK selalu patuh mendatangi KPK untuk diperiksa, tak peduli pejabat tinggi selevel menteri, wakapolri, Jaksa Agung Muda, anggota DPR RI, atau pejabat lainnya. Namun di kasus impor daging sapi, ada 2 orang yang selalu mangkir dipanggil KPK untuk diminta keterangannya sebagai saksi karena dianggap melihat, mendengar dan mengalami kejadian yang berhubungan dengan tersangka di KPK. 2 orang tersebut adalah Darin Mumtazah (istri siri Luthfi Hasan Ishaaq) dan Ahmad Zaky (Sekertaris pribadi mantan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq). Darin terancam di panggil paksa, dan Ahmad Zaky kemarin dipanggil paksa (ditangkap) setelah memberi keterangan sebagai saksi di Pengadilan Tipikor Jakarta.

Mangkirnya Darin karena beberapa alasan, antara lain ; belum menerima surat panggilan, sakit, sibuk persiapan Ujian Nasional, refreshing setelah UN sampai salah naik angkot, dipanggil ke Kuningan, Darin justru ke Cirebon. Mangkirnya Darin adalah upaya mengulur-ulur waktu karena masa tahanan LHI sudah hampir habis dan apabila sampai kamis 30 Mei 2013 ini berkas LHI belum dinyatakan lengkap (P21) maka LHI akan bebas demi hukum. Darin Mumtazah rela pasang badan dengan mempersulit penyidikan terhadap LHI, hal ini bisa dimaklumi, sebab sebelumnya Darin Mumtazah sudah pasang badan untuk LHI, yang menurut keterangan satpam dilingkungan tempat tinggal Darin, LHI - Darin memakai sebutan Papa Mama.

Mangkirnya Ahmad Zaky karena beberapa alasan, antara lain belum menerima panggilan, sakit, dan ada kegiatan lain. Saking pentingnya peran Ahmad Zaky di pusaran kasus korupsi impor daging sapi, KPK sampai memanggil Zaky sebanyak 10 kali, namun sebagian besar Ahmad Zaky mangkir dari panggilan tersebut. Tidak kooperatifnya Ahmad Zaky merupakan upaya mengulur-ulur waktu karena masa tahanan LHI sudah hampir habis dan apabila sampai kamis 30 Mei 2013 ini berkas LHI belum dinyatakan lengkap (P21) maka LHI akan bebas demi hukum. KPK pun akhirnya melakukan upaya paksa berupa penangkapan kepada Ahmad Zaky setelah menjadi saksi bagi terdakwa Arya dan Juard Effendi di Pengadilan Tipikor Jakarta.

Penangkapan ini selain untuk diminta keterangan sebagai saksi, juga untuk mendalami keterlibatan dan menjadikan Ahmad Zaky tersangka berikutnya dari kasus korupsi impor daging sapi, karena Ahmad Zaky di yakini terlibat dalam korupsi dan pencucian uang yang dilakukan oleh Luthfi Hasan Ishaaq dan Ahmad Fathanah. Bersama anak Hilmi Aminuddin, yaitu Ridwan Kamil, Ahmad Zaky juga sudah dicekal oleh KPK tidak lama setelah penangkapan LhI dan AF.

Keterlibatan Ahmad Zaky dalam pusaran korupsi dan pencucian uang LHI dan AF, antara lain :
- melompat pagar DPP PKS untuk kabur dari pengawasan penyidik KPK saat akan diminta mengambil kunci mobil dan menunjukan mobil-mobil LHI diparkiran DPP PKS jalan TB Simatupang Jakarta.
- meminjamkan namanya, Ahmad Zaky dalam sertifikat asset milik LHI, antara lain rumah di Jalan Haji Samali Nomor 27, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
- istri Ahmad Zaky, Linda Silviana menerima aliran dana sebesar Rp 1,025 miliar dari Ahmad Fathanah yang disinyalir fee untuk Ahmad Zaky dalam perannya dalam korupsi impor daging sapi

Sebaiknya KPK tidak perlu ragu untuk segera menetapkan pihak-pihak lain yang terlibat dalam pusaran korupsi kuota impor daging sapi, baik itu menteri pertanian, ajudan menteri, presiden partai yang sekarang, ketua majelis syuro pKS, anak ketua mejelis syuro, sekretaris pribadi LHI, ataupun pelajar SMK, hal ini demi penilain kinerja KPK yang sering dituding tebang pilih atau pilih tebang, sehingga ada yang bilang KPK bukan Komisi Pemberantasan Korupsi, tapi Komisi Pilih-pilih Koruptor, karena ternyata korupsi tidak pernah diberantas, yang ada koruptor dipilih-pilih untuk diberantas.

Selamat Pagi Indonesia

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Generasi ‘Selfie’: Bisakah Diandalkan? …

Fandi Sido | | 17 April 2014 | 11:02

Introspeksi Pascapemilu (Kado buat Caleg …

Nurjanah Nitura | | 17 April 2014 | 11:14

Di Saat Tidak Ada Lagi yang Peduli dengan …

Thomson Cyrus | | 17 April 2014 | 17:39

Jalur Linggarjati Gunung Ciremai Nan Aduhai …

Agung Sw | | 18 April 2014 | 01:24

Inilah Pemenang Kompasiana - ISIC 2014 Blog …

Kompasiana | | 17 April 2014 | 15:52


TRENDING ARTICLES

Manuver Amien Rais Menjegal Jokowi? …

Pecel Tempe | 5 jam lalu

Jokowi di Demo di ITB, Wajarkah? …

Gunawan | 14 jam lalu

Meski Tak Punya Ijin, JIS Berani Menolak …

Ira Oemar | 15 jam lalu

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 23 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 23 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: