Back to Kompasiana
Artikel

Hankam

Max Weber

Wong Cilik yang ingin Merdeka 100%

Jasmerah (Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah)

OPINI | 15 August 2013 | 08:50 Dibaca: 558   Komentar: 3   1

Apakah kita sudah Merdeka? Ya kita sudah Merdeka !!! kata pemuda yang mendengar teks Proklamasi, yang telah dibacakan oleh Bung Karno. Kata-kata “ Merdeka “ sangat tepat pada saat itu, tanggal 17 Agustus 1945, yang terbebas dari belenggu penjajah. Akan tetapi pantaskah kita “Merdeka” di masa sekarang sejak Pasca Kejatuhan Bung Karno akibat Kudeta yang dijalankan oleh Orde Baru dengan Kedok sebagai Penyelamat Bangsa dan sebagai Pemberantas PKI. sedangkan Bung Karno dianggap terlibat. dan juga 11 pemuda sebagai pengikut setia dan semua pemeran utama dari para pemuda yang gagah berani dan berjuang tanpa pamrih dilenyapkan. Ada yang dibuang ada yang ditahan dan sebagainya.

Apakah sah pemerintahan yang berasal dari Kudeta dengan menggulingkan Bung Karno sebagai Pemerintahan yang Sah secara Konstitutional ,dan Sah dimata para pemuda yang bersusah-payah, berjuang tanpa pamrih, berkorban dengan jiwa, banjir darah dan sebagainya, dan dimata rakyat Indonesia yang menghendaki kemerdekaan , kehendak rakyat juga kehendak Tuhan yang menghendaki perdamaian, otomatis Sah dimata Tuhan dan diberkahi pada masa pemerintahan Bung Karno.

Maka pada saat ini tidak heran Negara kita semakin hancur, karena berasal dari kehendak Kebiadaban dan Kekejaman terhadap Bung Karno dan para pejuang yang dianggap dalang PKI. Ironis sekali, pemerintahan yang berasal dari Kudeta ini justru telah berjalan hingga kini tanpa merasa tidak berdosa. bersenang-senang di atas penderitaan rakyat , justru bersenang-senang di atas jasa dan pengorbanan serta penderitaan dari para pendiri, para pahlawan, dan para pejuang 45, mereka menangis di alam sana.

Indonesia semakin hancur, berapa juta rakyat kelaparan, berapa juta rakyat miskin…makin hancurnya moral bangsa…berapa juta rakyat yang diinjak injak oleh bangsanya sendiri,

Mari kita bersama-sama. Kita buka lembaran baru, kita bersama-sama mengembalikan suatu pemerintahan yang sah yang berasal dari para pejuang yang berjuang tanpa pamrih, yang murni dari rakyat tertindas oleh para penjajah dimasa perjuangan dan masa kini. Kita kembalikan kehendak Tuhan yang Sah.

Dulu kita merdeka oleh peranan pemuda. Sekarang kita harus kembali “ back to Basic ” di tempat ini pula perjuangan pemuda berhasil mewujudkan kemerdekaan. Mari kita merenungkan dan mengingat kembali masa perjuangan 45, yang dilakukan oleh 11 Pemuda dari ” Laskar Rakyat “. Laskar Rakyat merupakan cikal bakal Tentara Nasional Indonesia. Dari merekalah negara kita lahir secara terhormat, bukan hadiah dari Jepang, bukan hadiah dari Belanda atau tentara sekutu. Mereka berjuang tanpa pamrih, yang ada dibenaknya hanya 2 kata “Merdeka” atau “Mati”.

Tanpa mereka (11 Pemuda Laskar Rakyat yang mewakili para pemuda yang berjuang dengan gagah berani) , mungkin negara kita menjadi negara Boneka bentukan dari Bangsa  Kapitalis Zionis. ..mungkin negara kita dijajah kembali oleh Penjajah.

Tanpa mereka,.. mungkin kita tidak punya Tentara Nasional Indonesia. Tanpa mereka …mungkin tidak ada MPR , DPR, Pancasila dan UUD 45. dan sebagainya.

Bung Karno menyatakan : “Berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Dari merekalah maka Bung Karno berani tampil memimpin Dunia.  Dari merekalah Bung Karno berani memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia.

Ini yang tidak pernah diketahui oleh generasi pemuda kita di masa kini, sehingga Jiwa Nasionalis generasi bangsa kita tidak terlihat sama sekali, yang pada akhirnya semakin hancurnya negara kita. Sejarah telah membuktikan bahwa peranan para pemuda-pemudi sangat penting dan wajib digaris bawahi dengan tinta emas, sebab ditangan pemudalah negara kita akan kembali menjadi negara yang terhormat dan bermartabat, jika para pemudanya memiliki jiwa nasionalis, cinta tanah air, kebanggaan terhadap para Pendiri NKRI dan para Pejuang 45, dan Api Semangat Revolusi 17 Agustus 1945.

Kini di tahun 2013, di tempat ini Gedung Juang, kita kembali mengambil ” Api Semangat Revolusi 17 Agustus 1945″ yang telah padam semenjak Jatuhnya Bung Karno dan tiadanya lagi 11 Pemuda. Marilah kita mengingat kembali Peristiwa Rengas Dengklok yang dipelopori oleh 11 Pemuda dengan “Aksi Revolusi”, yaitu :

1. bung A.M . Hanafi

2. bung Chaerul Saleh

3. bung Sukarni

4. bung ADAM MALIK

5. bung Sidik Kertapati

6. BUNG PANDU KERTAWIGUNA

7. bung Darwis

8. bung yUSUF Kunto

9. bung Djohar Nur

10. bung MARUTO

11. bung Wikana

Pada tanggal 15 Agustus 1945 pasca penjatuhan bom atom yang sangat dahsyat diHiroshima dan Nagasaki yang meratakan ke dua kota industri Jepang itu dengan tanah, Maha Kaisar Hirohito (Tenno Heika) telah memutuskan Jepang menyerah kalah.

Suara Tenno Heika berkumandang di medan perang Asia dan Samudra Pasifik, dan oleh karena Tenno Heika adalah pemegang kekuasaan absolut di Jepang yang dipercaya sebagai Anak Matahari, maka balatentara Jepang tunduk kepada perintah penyerahan tanpa syarat tersebut.

Kendati penguasa perang di Jakarta melarang Kantor Berita Domei menyiarkan berita penyerahan tersebut, bahwa banyak warga Jakarta terutama para Pemuda Revolusioner telah mendengar desas-desus tentang peristiwa sangat penting tersebut, malah beberapa hari sebelumnya.

Suatu malam di pertengahan Agustus 1945. Sekelompok 11 pemuda mendatangi kediaman Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta. Bung Karno, yang sudah mengetahui kedatangan utusan pemuda ini, segera menemui mereka di beranda rumah.

” Sekarang  Bung, sekarang! malam ini  juga  kita kobarkan revolusi !” kata Chaerul Saleh dengan meyakinkan  Bung Karno bahwa ribuan  pasukan bersenjata sudah siap mengepung kota dengan maksud mengusir tentara Jepang. ” Kita  harus segera merebut  kekuasaan !” tukas Sukarni berapi-api. ” Kami sudah siap mempertaruhkan jiwa kami !” seru mereka bersahutan. Wikana malah berani mengancam Soekarno dengan pernyataan; ” Jika Bung Karno  tidak mengeluarkan pengumuman pada malam  ini  juga, akan berakibat terjadinya suatu pertumpahan darah dan pembunuhan besar-besaran esok hari .”

Pemuda asal Sumedang, Jawa Barat, itu melangkah dengan sebilah pisau terjulur di tangannya. “Revolusi di tangan kami sekarang dan kami memerintah Bung. Kalau Bung tidak memulai revolusi malam ini, maka…”

“Maka apa?” teriak Bung Karno yang bangkit dari kursinya. “”Ini batang leherku,” katanya setengah berteriak sambil mendekati Wikana. “Seret saya ke pojok itu dan potong malam ini juga! Kamu tidak usah menunggu esok hari!” kata Bung Karno dengan setengah berteriak.

Hatta kemudian memperingatkan Wikana; “… Jepang adalah masa silam. Kita sekarang harus  menghadapi Belanda yang akan berusaha untuk kembali menjadi tuan di negeri kita ini. Jika saudara tidak setuju dengan  apa yang telah saya katakan, dan mengira bahwa saudara telah siap dan sanggup untuk memproklamasikan kemerdekaan, mengapa saudara tidak memproklamasikan kemerdekaan  itu sendiri ? Mengapa meminta Soekarno untuk  melakukan hal itu ?”

Namun, para pemuda terus mendesak;apakah kita harus menunggu hingga kemerdekaan itu diberikan  kepada kita sebagai hadiah, walaupun Jepang sendiri  telah menyerah dan telah  takluk  dalam ‘Perang Sucinya ‘!”. “ Mengapa bukan rakyat itu sendiri yang memprokla­masikan kemerdekaannya ? Mengapa bukan kita yang menyata­kan kemerdekaan kita sendiri, sebagai suatu bangsa ?”.

Dengan lirih, setelah amarahnya reda, Soekarno berkata; “… kekuatan yang segelintir ini tidak cukup untuk melawan kekuatan bersenjata dan  kesiapan total tentara  Jepang! Coba, apa yang  bisa  kau perlihatkan kepada saya ? Mana bukti kekuatan yang diperhitungkan itu ? Apa tindakan bagian keamananmu untuk menyelamatkan perempuan dan anak-anak ? Bagaimana cara mempertahankan kemerdekaan setelah  diproklamasikan ?Kita tidak akan mendapat bantuan dari Jepang  atau Sekutu. Coba bayangkan, bagaimana kita akan tegak di atas kekuatan sendiri “.Demikian jawab Bung Karno dengan tenang.

Para pemuda, tetap menuntut agar Soekarno-Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan. Namun, kedua tokoh itu pun, tetap pada pendiriannya semula. Setelah berulangkali didesak oleh para pemuda, Bung Karno menjawab bahwa ia tidak  bisa memutuskannya sendiri, ia harus berunding dengan para tokoh lainnya. Utusan pemuda mempersilahkan Bung Karno untuk berunding. Para tokoh yang hadir pada  waktu itu antara lain, Mohammad Hatta, Soebardjo, Iwa Kusumasomantri,  Djojopranoto, dan Sudiro. Tidak lama kemudian, Hatta menyampaikan keputusan, bahwa  usul para  pemuda tidak dapat diterima dengan alasan kurang perhitungan serta kemungkinan  timbulnya  banyak korban jiwa dan harta. Mendengar penjelasan Hatta, para pemuda  nampak tidak puas. Mereka mengambil  kesimpulan yang  menyimpang; mengamankan Bung Karno dan Bung Hatta dengan maksud menyingkirkan  kedua tokoh itu dari pengaruh Jepang.

Pukul 04.00 dinihari, tanggal 16 Agustus 1945, Soekarno dan Hatta oleh sekelompok pemuda dibawa ke Rengasdengklok. Aksi “Pengamanan” bukan “Penculikan” itu sangat mengecewakan Bung Karno, sebagaimana dikemukakan Lasmidjah Hardi (1984:60). Bung Karno marah dan  kecewa, terutama  karena para pemuda tidak mau mendengarkan pertimbangannya yang sehat. Mereka menganggap perbuatannya itu sebagai tindakan patriotik. Namun, melihat keadaan dan situasi yang panas, Bung Karno tidak mempunyai pilihan lain, kecuali mengikuti kehendak para pemuda untuk dibawa ke tempat yang  mereka tentukan. Fatmawati istrinya, dan Guntur yang pada waktu itu belum berumur satu tahun, ia ikut sertakan.

Peristiwa itu terjadi pada tanggal 16 Agustus 1945. Pagi-pagi buta, sekitar pukul 04.30 WIB, sekelompok 11 pemuda revolusioner membawa Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok, Jawa Barat. Di sana Bung Karno, Bung Hatta, dan pemuda merundingkan Proklamasi Kemerdekaan.

Terjadilah perundingan sengit di antara Pemuda Revolusioner dengan Soekarno dan Hatta. Soekarno melihat para Pemuda Revolusioner yang gagah, tampan dan air muka mereka yang tidak mengenal takut, dan Soekarno tahu betul bahwa Pemuda Revolusioner ini sangat mencintai Soekarno.

Soekarno berbicara sungguh-sungguh persetujuannya untuk memproklamasikan Kemerdekaan Bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945 tetapi Proklamasi dibuat dan diumumkan di Jakarta.

Pemuda Revolusioner mulanya sangsi terhadap janji Soekarno, tetapi Ahmad Subardjo Djojoadisuryo, SH menjamin dengan taruhan kepalanya dipancung bila Proklamasi gagal pada 17 Agustus 1945, maka para Pemuda Revolusioner setuju.

Pada jam 10.WIB malam berangkatlah Soekarno dan Hatta ke Jakarta dengan pengawalan dari Pemuda Revolusioner dan balatentara Republik Indonesia (mantan Peta).

Bung Karno menginginkan Proklamasi Kemerdekaan tetap melalui jalur aman, yakni PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia), demi menghindari pertumpahan darah dan jatuhnya korban di kalangan rakyat Indonesia. Sedangkan pemuda menghendaki jalur aksi revolusi, yakni proklamasi kemerdekaan di tengah-tengah massa rakyat.

Pada akhirnya dengan perjalanan cukup menegangkan Proklamasi Kemerdekaan dilakukan tanggal 17 Agustus 1945 di kediaman Bung Karno di Pegangsaan Timur 56 Jakarta. Proklamasi itu dibacakan oleh Bung Karno atas nama Bangsa Indonesia. Bukan oleh PPKI—sesuai dengan keinginan 11 pemuda.

Demikianlah berkat tekanan keras dari Pemuda Revolusioner, sikap ragu-ragu dari Soekarno dan Hatta berhasil dicairkan dan pada malam tanggal 17 Agustus 1945 diselesaikanlah Naskah Proklamasi di rumah Laksamana Maeda (di Oranje Nassauboulevard, Jakarta), dan pada 17 Agustus 1945 Proklamasi yang telah ditandatangani Soekarno dan Hatta atas nama Bangsa (seluruh Rakyat) Indonesia dan diucapkan oleh Soekarno di hadapan Rakyat dan Pemuda Revolusioner, dan terwujudlah Kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Proses Proklamasi Kemerdekaan ini berlangsung sangat tegang, dramatis, dan dalam tempo kilat. Tanggal 15 Agustus 1945, amanat Tenno Heika tentang penyerahan Jepang ke pihak Sekutu, sebelumnya tanggal 15 Agustus 1945 saat kembalinya Soekarno dan Hatta dari Saigon, disusul tanggal 16 Agustus 1945 saat diculiknya Soekarno dan Hatta oleh Pemuda Revolusioner, dan disusul tanggal 17 Agustus 1945 sungguh proses yang berlangsung kilat dan yang berhasil maksimal. Oleh karena itu betapa vitalnya peran Desa Rengasdengklok dan tanggal 16 Agustus 1945 dalam perjalanan Perjuangan Besar (Revolusi Besar) Bangsa Indonesia.

Betapa cemerlangnya perjuangan gagah berani dari para Pemuda Revolusioner Indonesia yang mendorong Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia. Suatu tekad yang tidak takut mati dan risiko apapun oleh karena para Pemuda Revolusinya sangat tahu kekuatan balatentara Jepang yang haus darah yang menjadi tantangan pertama.

Rengasdengklok kemudian Menteng 31 Jakarta adalah tiang utama perjalanan Perjuangan Besar Pemuda Revolusioner, dan karena Proklamasi ditekan dengan sangat keras di Rengasdengklok, maka posisi Rengasdengklok bukan semata tiang Perjuangan Para Pemuda Revolusioner, tetapi tiang utama Revolusi Indonesia.

Pasca Proklamasi Kemerdekaan terutama setelah Pengakuan Kedaulatan Bangsa Indonesia ternyata yang dibesar-besarkan adalah Jakarta, dalam hal ini Istana Kepresiden Republik Indonesia. Para pemimpin besar Indonesia termasuk Soekarno dan Hatta dengan sadar atau dengan tidak sadar telah sedemikian rupa melupakan Rengasdengklok.

Baik dalam upacara kenegaraan, maupun dalam buku sejarah yang beredar, bahwa peran Rengasdengklok terkesan dilecehkan yang berakibat baik Generasi Tua mau pun Generasi Muda Indonesia tidak memahami peran kawasan Rengasdengklok termasuk Cakung, Jakarta Timur, Karawang, dan Purwakarta dalam awal peledakan Revolusi Besar Bangsa Indonesia.

Penyakit melecehkan peran menentukan dari Desa-desa Indonesia serta penyakit elitisme, aristokratisme, serta penyakit membesar-besarkan berlebih-lebihan kehebatan Barat (Eropa Barat dan Amerika Serikat) ternyata gagal dikendalikan oleh Soekarno dan Hatta.

Soekarno tersentak pasca terjadinya G 30 S tentang betapa keroposnya persatuan dan Kesatuan Rakyat Indonesia dan betapa mudahnya sesama Rakyat Indonesia gontok-gontokan. Soekarno berteriak: Jangan sekali-kali meninggalkan Sejarah! Tetapi sejarah gilang-gemilang Bangsa Indonesia telah sedemikian rupa dilecehkan oleh elit Indonesia.

Proses ini berakibat sangat jauh di mana kepribadian Bangsa Indonesia hilang secara sistematis. Bila kepribadian dari satu bangsa hilang, maka ia akan lemah dan mudah dibodoh-bodohi dan dihancurkan oleh pihak yang tidak beruntung bila bangsa dimaksud menjadi kuat, dan pada sisi lain para elit Indonesia menjadi pencoleng, pencopet, dan perampok uang negara.

Suatu harapan yang kelihatannya sangat sulit diwujudkan oleh pemimpin Bangsa Indonesia saat ini, agar kepribadian Bangsa Indonesia dibangun secara sistematis dengan meninggalkan sikap kebarat-baratan. Kembalilah ke basis dan ke akar kepribadian Bangsa Indonesia yang penuh kegagah-beranian dan rasa percaya diri yang sangat tinggi.

Sejarah Perjuangan Pemuda Revolusioner, dan seluruh Pejuang, serta Rakyat Indonesia sungguh sulit dicarikan bandingannya. Jangan sekali-kali Meninggalkan Sejarah!

Di tempat yang sakral ini, photo-photo para pemuda Laskar Rakyat  terpampang di dinding gedung Juang ini,dan benda-benda lainnya sebagai Saksi Bisu .

Momentum ini sangat ditunggu-ditunggu oleh mereka yang berada di alam sana yang menghendaki perdamaian yang sah dari Tuhan dengan diwakili oleh rakyat yang menderita secara langsung maupun tidak langsung.

Karena Hukum Tuhan adalah Hukum yang abadi berlaku sepanjang jaman. Hukum sebab akibat siapa yang menanam baik positip maupun negatip dia akan menuainya cepat atau lambat. Hukum manusia yang disertai oleh kebiadaban dan kekejaman tidak bertahan lama, dan tidak mendapat keberkahan dari Tuhan.

MERDEKA !! MERDEKA  !!MERDEKA !!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Cara Cermat Buang Sampah, yang Mungkin Dapat …

Tjiptadinata Effend... | | 21 October 2014 | 21:18

Rupiah Tiada Cacat …

Loved | | 17 October 2014 | 17:37

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

Ekspektasi Rakyat terhadap Jokowi …

Fitri.y Yeye | | 21 October 2014 | 10:25

[ONLINE VOTING] Ayo, Dukung Kompasianer …

Kompasiana | | 16 October 2014 | 14:46


TRENDING ARTICLES

Pak Prabowo, Sikap Anda Merusak Isi Kepala …

Eddy Mesakh | 4 jam lalu

Jamberoo itu Beda Total dengan Jambore …

Roselina Tjiptadina... | 5 jam lalu

Siapa Sengkuni? Amien Rais, Anda Atau Siapa? …

Erwin Alwazir | 11 jam lalu

Anang Hermansyah Hadiri Pesta Rakyat, Ahmad …

Sahroha Lumbanraja | 11 jam lalu

Jokowi Membuatku Menangis …

Fidiawati | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Kindi: Fotografer Cilik …

Dewilailypurnamasar... | 8 jam lalu

Kuliner Bebek Mercon di Warung Komando Eko …

Sitti Rabiah | 8 jam lalu

Bersih Dusun Playen I dan II dari Kirab …

Tulus Jokosarwono | 9 jam lalu

“Ketika Rintik Hujan Itu Turun di …

Asep Rizal | 9 jam lalu

Inilah Pemenang Blog Reportase Test Ride …

Kompasiana | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: