Polhukam
Lihat Profil    Jadikan teman    Kirim Pesan
Inilah wajah nenek moyangku pithecantropus ereksi ......
Politik Omong Kosong
Den Marto
|  10 Februari 2010  |  01:48
85
7
1 dari 1 Kompasianer menilai Aktual.

Kalau membaca berita tentang perkembangan Pansus Century, beritanya simpang siur, disatu sisi katanya ada pelanggaran hukum, disisi lain mengatakan lembaga yang terkait seperti BPK dan PPATK dengan penyediaan data yang dibutuhkan masih menemui kesulitan dalam pengumpulannya.

Kalau data aliran dana Bnak Century belum lengkap, kesimpulannya tentu tidak akan lengkap.  DPR adalah lembaga politik, ada tidaknya pelanggaran hukum tentunya menjadi wewenang penegak hukum.  Artinya  adanya kepastian hukum masih memerlukan proses dan ini menggambarkan bahwa kesimpulan pansus tersebut sebetulnya belum ada maknanya.

Seperti halnya jika kita ingat pada saat pencalonan Boediono, semua anggota koalisi menentang yang akhirnya menunduk. Demikian juga dengan penolakan terhadap Golkar yang akan bergabung dalam koalisi, akhirnya juga semua menunduk tak ada yang menentang.

Apakah sikap partai pendukung koalisi masih sama seperti pada saat menjelang pilpres ?.  Dilihat dari fenomena yang berkembang agaknya  pansus akan dipakai sebagai alat bargaining.

Dengan melihat fenomena politik yang berkembang saat ini, sesungguhnya sangat terlihat kepentingan partai dalam kekuasaan daripada kepentingan rakyatnya.  Yang menyangkut kepentingan rakyat seperti dananya yang masih belum jelas penyelesaiannya justru diabaikan. Proses hukum itu akan makin membuat hak nasabah itu makin jauh dari penyelesaiannya. Sebab, pengembalian dana nasabah itu bukanlah melalui proses hukum tetapi harus melalui proses politik.

Persetujuan anggaran ada ditangan DPR, namun jika kita lihat kesimpulan yang dibuat pansus, sama sekali tidak menyinggung pengembalian dana masyarakat tersebut. 

Semua dapat berbicara maupun membuat kesimpulan, inilah yang dilakukan para wakil rakyat  yang dapat kita saksikan. Bagaimana realisasinya, mungkin hanya kesimpulan itulah hasilnya, tidak akan ada tindak lanjut yang konkrit yang betul2 memihak rakyat.

Ada rencana memperpanjang kerja pansus, dari apa yang dihasilkan pansus,  rasanya percuma perpanjangan tersebut kecuali adanya tambahan honor.  Namun banyak yang tidak kecewa dengan hasil kerja pansus karena banyak yang tidak menggunakan hak pilihnya alias Golput. Jika cara kerja wakil rakyat tetap seperti ini, masyarakat kehilangan kepercayaan, kemungkinan Golput akan lebih meningkat lagi. Artinya, politik negeri ini tidak pernah akan stabil karena parlemen jalanan akan makin lebih marak lagi.

Makin hari makin membosankan, rakyat banyak disuguhi omong kosong yang makin hari makin kelihatan kosongnya. Daripada banyak omong kosong, lebih baik turun kedesa2, rakyat sudah mulai makan gaplek tapi menerima keadaan tersebut sebagai nasibnya. Mungkin mereka lebih baik menerima kedaan ketimbang mengadu kepada wakilnya.


Sebarkan Tulisan:
Tanggapan Tulisan
10 Februari 2010 02:36
0

no 1……………….!!!!

10 Februari 2010 | 02:44
0

No 1b……..!!!!

10 Februari 2010 02:45
0

Gak jauh-jauh Om. Semua ini, kan, cuma dagang sapi!

10 Februari 2010 02:58
0

Uang dan kekuasaan diotak mereka yang ada di parlemen

10 Februari 2010 06:05
0

duh.. klo baca postingan mas joker..gw jadi ilfil dg yg namanya poli-tikus…!!politik indo cuma buang2 duit,pesta demokrasi apa2an klo pada akhirnya rakyat cuma makan gaplek dan nasi aking!!ini akibat politikus yg jor-joran!!kedepan..yg berpoltik dibatasi saja seperti dichina, ternyata disana gak ada pemilu langsung oleh rakyat yg ada polit biro yg memlih presdein dan pemimpin lainnya!!kebayang dong berpa biayanya klo pemilu hrs model indonesia dan india or USA..negara dg penduduk 1,5M..masa pemerintah china hrs mencetak brosur seperti di indonesia yg diisi photo gambar pemipin kita yg jauh dari cantik apalagi ganteng!!sampai gila2an..??yg waras china apa indonesia klo begini!??

10 Februari 2010 07:21
0

Saya baru saja jalan-jalan kesuatu daerah yang terkenal miskin dan ketemu seorang petani usianya sekitar 60 tahun, seperti biasanya orang tua, beliau bernostalgia membandingkan kehidupan petani saat ini dengan kehidupan petani berapa puluh tahun yang lalu. Katanya harta untuk petani adalah ” rajakaya” (ternak) dulu untuk membeli sepda motor butuh 10 ekor sapi, untuk membeli TV butuh 1,5 sapi sekarang 1,5 ekor sapi saja bisa beli motor, 1 ekor kambing bisa beli TV. Harga beras naik, semakin semangat untuk menanam padi. Katanya saat ini merupakan zaman keemasan petani. Kalau ada petani sampai makan gaplek dan nasi aking, ya karena malas dan tidak mau usaha (ini katanya lho). So saya jadi kaget dengar ceritanya, karena tiap kali baca kompasiana hanya ada caci maki buat negara ini, saya juga banyak tidak puas dengan keadaan saat ini. Atau saya memang orang yang kurang bisa bersyukur yaa? Padahal kehidpan saya saat ini jauh lebih baik dari keadaan saya dulu, juga jauh lebih baik diabnding yang petani yang bercerita. Sebanarnya pendapatan perkapita saya masih dibawah rata-rata nasional. Jangan-jangan kita sudah jauh lebih sejahtera dibandingkan dulu, cuma kita tak pandai bersyukur.

10 Februari 2010 11:44
0

sshshhhhh………
skrg ganti presiden ………. belum tentu…
ganti anggota dewan…..ada harapan….
dewan rapat atau berpansus …. bukan biaya kecil
daripada ribut ga karuan….mendingan pintar dulu keluarga kita yg dipedalaman papua !
miris liat guru yg sdg mengajar (di tvone) di pedalaman papua…… kayanya anak smp di pulau jawa akan lebih pintar dr guru itu ……. kenyataan dan bukan salah sang gurunya itu.
wajar kalau mereka (papua) ingin lepas dr NKRI ….. cari peruntungan agar lebih manusiawi kehidupan mereka.
drpd biaya bwt pansus mendingan bwt bikin sekolah dan “menyekolahkan” saudara kita di papua !
yaaaahhh…..angan2 sy sedikit beda ga apa kan ?

Tulis Tanggapan Anda
Guest User
Search:
IB: iB memiliki produk perbankan yang sangat...
Bersyariah, Nyaman Nggak Ya?
Oleh Endang Rosaw...
Jangan-jangan kursi & meja plastik di rumah Anda hasil daur ulang casing bekas ponsel.

Luangkan Waktu Libur untuk Tanah
Apa yang Anda lakukan di hari libur, khususnya Sabtu dan Minggu?
Copyright 2008 - 2009